Senin, 19 November 2012

SELAMATKAN ANGGREK HITAM SANGGU, SELAMATKAN HUTAN DAN DANAUNYA


Hari Selasa tanggal 13 November 2012 Pukul 06.15 WIB televisi swasta nasional Trans-7 menyiarkan "RAGAM INDONESIA". Dalam narasi yang disampaikan dinyatakan bahwa habitat anggrek hitam hanya ada di 2 (dua) tempat di dunia yaitu: Kutai Kartanegara (Provinsi Kalimantan Timur) dan Provinsi Guangzhou (China). Tentu saja hal ini benar karena mereka hanya tahunya sebatas itu. 

Namun yang perlu dicermati bahwa kabupaten Barito Selatan dan Kalimantan Tengah pada umumnya adalah habitat asli anggrek hitam di Indonesia. Bahkan Sanggu sebagai desa anggrek adalah rumah asal dari anggrek hitam, anggrek Mutiara dan anggrek Coklat yang sampai sekarang masih ada di alam walau pun sudah  kian langka. 

Dalam kesempatan ini saya Syamsuddin Rudiannoor, S. Sos perlu menyampaikan beberapa hal sebagai berikut:

1. Kabupaten Barito Selatan perlu mengajukan Anggrek Hitam dan anggrek spesifik lainnya sebagai kekayaan asli Barito Selatan, dimulai dari Keputusan Bupati, bila perlu Perda, untuk akhirnya diajukan secara nasional. Hal yang sama bisa diajukan dalam bidang lain seperti seni budaya sehingga menghindari klaim dari daerah lain atau bangsa lain. Diluar anggrek hitam, budaya yang perlu dilindungi Pemda Barsel antara lain "WADIAN".

2. Sampai hari ini anggrek Barito Selatan selalu dijual ke luar oleh daerah oleh para pemburu anggrek dan saya tahu sekali seminggu anggrek kita diterbangkan ke pulau Jawa / Bali melalui Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya. Saya pun secara pribadi telah meminta mereka mengadakan upaya budidaya namun yang paling ekonomis memang menjual yang langsung didapat dari hutan. Hutan yang jadi sasaran mereka sekarang adalah Majunre, Bundar, Madara sampai Kabupaten Kapuas.

3. Dalam kesempatan Rapat Konsultasi Wilayah Tujuan Wisata "E" Kalimantan tahun 2007 di Samarinda, para peserta Rakon dibawa ke lokasi BOS di Wanariset Samboja. Disana ketika ditanya dari mana memperoleh Anggrek Hitam yang dibudi-dayakan, mereka dengan jujur mengaku berasal dari Kalteng, dari desa Sanggu. Dari Samarinda mereka berburu anggrek ke Kalteng dengan mobil ranger dan membeli atau mencari berbagai macam tanaman asli hutan untuk dibawa ke Kaltim. Lalu apa jawaban Kalteng dan Barsel pada khususnya dalam kondisi saat ini? Adakah Pemda Barsel memiliki pandangan untuk mencadangkan sedikit hutannya untuk konservasi di Sanggu, Majunre, Bundar atau Madara untuk membiarkan anggrek hitam berkembang biak di alamnya? 


4. Dulu 2-3 tahun lalu Dinas Kehutanan Kabupaten Barito Selatan pernah memasang papan peringatan di danau Malawen bahwa kawasan itu adalah hutan konservasi. Alangkah baiknya rencana itu digiatkan lagi supaya sisa hutan diantara Jembatan Mulpy (Pamait) - Rumah Jabatan Bupati atau Jembatan Mulpy - Danau Sanggu / Majunre bisa diselamatkan sebagai hutan kota. Alangkah indahnya kalau daerah itu bisa terjaga, dibuatkan tempat penyelamatan flasma nutfah endemik Barsel, rawanya bisa untuk wisata perikanan dan rumput kumpainya bisa untuk memelihara kijang atau kerbau rawa. Apakah sudah ada rencana Barsel untuk menetapkan kawasan itu sebagai kawasan pencadangan dan wisata spesifik? Mana ku tahu. 


Penutup 
Dari sekitar 35.000 jenis anggrek yang ada didunia, di Kalimantan diperkirakan 3.000 jenis dan berbagai spesies anggrek langka banyak di hutan Kalimantan Tengah. 

Desa Sanggu yang terletak di kecamatan Dusun Selatan, kabupaten Buntok, Kalimantan Tengah, sampai saat ini sudah dikenal sebagai Desa wisata Anggrek. Sebagian penduduknya juga membudi-dayakan anggrek. Rumah-rumah penduduk berderet-deret tanaman anggrek yang disusun rapi.  Air Hitam Danau Sanggu juga dikenal luas dengan kolam renang anak air hitam. 

Singkat kata, semoga saja antara Sanggu - Sababilah - Pamait dapat dijadikan satu kawasan Wisata Konservasi yang terencana sejak dini, amin. 


Tidak ada komentar: