Sabtu, 26 November 2016

TERSEDIA KERIPIK DAN STIK IKAN


Barsel Promo Buntok hari ini Sabtu 26 November 2016 tersedia aneka keripik antara lain keripik ikan benangin, stik ikan benangin dan stik ikan bantahukan. Harga masing-masing per bungkus Rp. 15.000,-
.
Keripik dan stik lain yang tersedia antara lain keripik kelakai (lambiding), stik lambiding, stik paku, keripik paku, keripik putri malu dan oleh-oleh khas Kalimantan lainnya.
13efb-barsel2bpromo2basli

Rabu, 23 November 2016

Produk Barsel Promo Buntok


dsc00001Produk Barsel Promo Buntok yang tersedia sekarang adalah:
Keripik Lambiding / keripik kelakai seharga Rp 15.000,- per bungkus
Keripik Putri Malu Rp. 15.000,- per bungkus
Keripik Paku Rp. 15.000,- perbungkus
Kerupuk tepung Rp. 10.000,- per bungkus
Stik Kelakai Rp 15.000,- per bungkus
Stik Paku Rp. 15.000,- per bungkus
Stik ikan benangin Rp. 15.000,- per bungkus
Stik ikan bantahukan Rp, 15.000,- per bungkus
.
dsc00015Produk beralamat Jalan Panglima Batur No.7 samping Kejaksaan Negeri Barito Selatan di Buntok.
.
Barsel Promo asli
Tersedia juga produk lain seperti tas manik khas Dayak, mandau, anjat atau tas punggung rotan dan produk lainnya.

Minggu, 20 November 2016

BARSEL PROMO DIAJAK DINAS PERIKANAN BARSEL KE PERAJIN OLAHAN IKAN DI PALANGKA RAYA


dsc00026Kami Kelompok Usaha dan Pemasaran Bersama “Barsel Promo” Buntok merasa sangat beruntung karena diikut-sertakan oleh Dinas Perikanan Kabupaten Barito Selatan dalam Kunjungan Belajar ke Kelompok Usaha Pengolahan Hasil Perikanan “Tampung Parei” di Jalan Tingang VII B N0.2 Palangka Raya pada hari Kamis tanggal 17 November 2016.
.
dsc00040Dari kunjungan itu kami memperoleh banyak masukan yang berguna dalam mengelola dan mengembangkan usaha diantaranya berbagai olahan kreatif yang dihasilkan dari hasil perikanan (ikan), teknis pengemasan produk dan pemasarannya.
.
dsc00043Terima kasih kepada Bapak Ir. Johny Ngindra selaku pimpinan rombongan beserta seluruh tim Dinas Perikanan Kabupaten Barito Selatan yang rela bersusah payah untuk mengantarkan kami ke Palangka Raya.
.
dsc00050Semoga kunjungan ini membawa kebaikan bagi kita semua, amin.
.
Syamsuddin Rudiannoor

TERSEDIA KERIPIK PAKU, KELAKAI DAN PUTRI MALU

Hari ini tersedia keripik Lambiding (kelakai), Paku dan Putri Malu (Sasupan) di Barsel Promo Buntok.
.
Disamping itu juga ada stik lambiding, paku dan putri malu. Masing-masing produk berharga Rp. 15. 000,- per bungkus. 
.

42656-barsel2bpromo
 
Barsel Promo Buntok
Alamat : Jalan Panglima Batur 7 Buntok, Kalimantan Tengah
Kontak / sms : Syamsuddin Rudiannoor (0813 4960 6504)

BARSEL PROMO PRAKTEK WIRAUSAHA DI SMA NEGERI 1 BUNTOK


dsc00004Terima kasih kepada Kepala SMA Negeri 1 Dusun Selatan, Bapak Heri Purwanto, S.Pd, M.Pd yang mempercayakan Barsel Promo untuk berbagi sedikit pengetahuan dibidang kewirausahaan dan ekonomi kreatif.
.
dsc00005Pada hari Sabtu pagi tanggal 15 Oktober 2016 pukul 09.00 – 10.30 WIB telah disampaikan cara membuat produk khas daerah yang dipasarkan oleh Barsel Promo sebagai oleh-oleh yaitu KERIPIK KELAKAI dan STIK KELAKAI.
.
dsc00009
Semoga dengan penyampaian produk kreatif ini bisa memacu anak didik di SMA Negeri 1 Dusun Selatan mengambil manfaat dan mengembangkannya sebagai usaha yang menguntungkan.
.
Syamsuddin Rudiannoor

Kamis, 27 Oktober 2016

Kondisi Burung Langka Enggang Gading di Kalimantan Makin kritis

RUBRIK


Karena digemari kolektor dan pembeli, Enggang Gading yang juga dikenal sebagai Rangkong Gading di Kalimantan terancam punah. Terutama pembeli di Cina memburu paruh burung ini.
Helmhornvogel Aceros cassidix ausgestopft (AFP/Getty Images)
Yang paling mencolok dari burung Enggang Gading adalah paruh besarnya yang berwarna kuning kemerahan dan terlihat seperti gading. "Gading Merah" itulah sekarang makin diburu para penggemar satwa langka yang eksotis, terutama di Cina.
Selama beberapa dekade sebelumnya, pemburu di hutan Kalimantan Barat terutama fokus menangkap orangutan dan beruang madu untuk dijual. Tapi dalam beberapa tahun terakhir ada lonjakan permintaan untuk enggang gading, yang menyebabkan spesies burung ini terancam punah.
Di pasar gelap, paruh enggang gading bisa dijual lima kali lebih mahal daripada gading gajah. Bagi banyak pembeli, paruh itu hanya digunakan sebagai hiasan atau asesori untuk dipajang di rumahnya sebagai pameran status.
Produk ini telah menjadi begitu populer di Cina, di mana kolektor kaya tertarik untuk memamerkan status dengan membeli hewan langka atau eksotis.
"Permintaan untuk barang yang terhitung mewah ini benar-benar melejit," kata Chris Shepherd dari organisasi pengawasan perdagangan satwa TRAFFIC kepada kantor berita AFP.
"Terutama permintaan di Asia benar-benar tinggi, sehingga populasi enggang gading benar-benar terancam."
Para pemburu ilegal hanya tertarik pada "helm" unik burung langka ini, yang terlihat seperti keratin merah emas dan berfungsi sebagai pelindung kepalanya. Substansi seperti gading ini yang kemudian bisa diukir oleh pengrajin menjadi ornamen mewah, patung dan perhiasan lain dan digunakan pembelinya sebagai sesuatu yang bergengsi.
Para ahli mengatakan, pelindung kepala burung Enggang Gading ini bisa mencapai harga 1000 dolar AS di pasar gelap, jauh lebih mahal dari harga gading gajah. Dalam lima tahun terkahir saja, ribuan burung ini tewas karena diburu.
Yokyok Hadiprakarsa, peneliti terkemuka di Indonesia untuk Enggang Gading memperkirakan, di Kalimantan Barat saja sekitar 500 burung tewas setiap bulan pada tahun 2013 saja, artinya 6000 burung per tahun.
Enggang Gading dulunya memang secara tradisional sudah diburu oleh suku-suku asli Kalimantan, tetapi tidak pernah pada tingkat yang menimbulkan risiko kepunahan.
Perburuan dan pembantaian sistematis spesies ini muncul secara tiba-tiba," kata Chris Shepherd. Baru tahun 2011, gading merah pertama dari Enggang Gading muncul di situs internet dari sebuah pasar satwa liar di kawasan perbatasan Myanmar dan Laos.
Perburuan intensif lalu terjadi, terutama di kalangan jaringan penyelundup satwa liar di Kalimantan Barat. Jalur utama penyelundupan satwa liar itu adalah bandara internasional di ibukota Pontianak.
Enggang Gading adalah burung besar. Ukuran tubuhnya bisa mencapai 170 cm dan memang mudah untuk diburu. Biasanya burung ini bertengger di batang pohon-pohon besar, tidak jarang secara berkelompok.
Selama 2015-2015 ada 16 kali penangkapan terkait perdagangan ilegal paruh Enggang Gading, dengan sitaan lebih dari 1100 paruh. Di Cina diamankan lebih dari 1000 paruh enggang dari 19 kali operasi aparat keamanan. Semuanya diduga berasal dari Indonesia.
Anggota Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat SPORC di Kalimantan mengatakan, anggotanya sekarang jarang melihat burung Enggang Gading di pohon selama patroli. Tetapi mereka sering bangkai burung yang sudah dipotong kepalanya.
"Bagi para pemburu, yang paling bernilai itu kepalanya", kata David Muhammad, Kepala SPORC di Pontianak, kepada AFP. "Itulah satu-satunya yang mereka inginkan. Sisanya tidak punya nilai."
Perdagangan komersial Enggang Gading secara hukum dilarang di Cina dan di seluruh kawasan habitatnya di Asia Tenggara: Thailand, Myanmar, Malaysia, Brunei dan Indonesia.
Tapi perdagangan ilegal makin semarak. Menurut Chris Sheperd, dalam ├╝periode 18 bulan sampai Agustus 2014, hampir 2.200 paruh Gading Enggang disita aparat penegak hukum di Cina dan Indonesia, dan ini hanya "puncak gunung es" saja..
Dalam satu kasus, unit SPORC mencegat empat warga negara Cina di bandara Pontianak, yang membawa hampir 250 paruh yang disimpan di bagasi mereka.
Adam Miller, kelompok konservasi Planet Indonesia yang berbasis di Pontianak mengatakan, penyelundupan Enggang Gading sudah mirip sindikat perdagangan gading gajah dalam skala, kriminalitas dan kecanggihannya.
"Hanya sedikit orang yang melakukan itu hanya untuk bertahan hidup. Ini kebanyakan kegiatan sindikat," katanya kepada AFP.
Chris Shepherd mengatakan, perkembangan ini mencerminkan tren yang berkembang di kalangan kolektor satwa liar dan eksotis.
"Orang-orang ingin memiliki hewan ilegal, orang ingin memiliki hewan langka, orang ingin memiliki hewan mahal, hanya untuk pamer status dan kekayaan mereka," katanya.

Kondisi Burung Langka Enggang Gading di Kalimantan Makin kritis

RUBRIK


Karena digemari kolektor dan pembeli, Enggang Gading yang juga dikenal sebagai Rangkong Gading di Kalimantan terancam punah. Terutama pembeli di Cina memburu paruh burung ini.
Helmhornvogel Aceros cassidix ausgestopft (AFP/Getty Images)
Yang paling mencolok dari burung Enggang Gading adalah paruh besarnya yang berwarna kuning kemerahan dan terlihat seperti gading. "Gading Merah" itulah sekarang makin diburu para penggemar satwa langka yang eksotis, terutama di Cina.
Selama beberapa dekade sebelumnya, pemburu di hutan Kalimantan Barat terutama fokus menangkap orangutan dan beruang madu untuk dijual. Tapi dalam beberapa tahun terakhir ada lonjakan permintaan untuk enggang gading, yang menyebabkan spesies burung ini terancam punah.
Di pasar gelap, paruh enggang gading bisa dijual lima kali lebih mahal daripada gading gajah. Bagi banyak pembeli, paruh itu hanya digunakan sebagai hiasan atau asesori untuk dipajang di rumahnya sebagai pameran status.
Produk ini telah menjadi begitu populer di Cina, di mana kolektor kaya tertarik untuk memamerkan status dengan membeli hewan langka atau eksotis.
"Permintaan untuk barang yang terhitung mewah ini benar-benar melejit," kata Chris Shepherd dari organisasi pengawasan perdagangan satwa TRAFFIC kepada kantor berita AFP.
"Terutama permintaan di Asia benar-benar tinggi, sehingga populasi enggang gading benar-benar terancam."
Para pemburu ilegal hanya tertarik pada "helm" unik burung langka ini, yang terlihat seperti keratin merah emas dan berfungsi sebagai pelindung kepalanya. Substansi seperti gading ini yang kemudian bisa diukir oleh pengrajin menjadi ornamen mewah, patung dan perhiasan lain dan digunakan pembelinya sebagai sesuatu yang bergengsi.
Para ahli mengatakan, pelindung kepala burung Enggang Gading ini bisa mencapai harga 1000 dolar AS di pasar gelap, jauh lebih mahal dari harga gading gajah. Dalam lima tahun terkahir saja, ribuan burung ini tewas karena diburu.
Yokyok Hadiprakarsa, peneliti terkemuka di Indonesia untuk Enggang Gading memperkirakan, di Kalimantan Barat saja sekitar 500 burung tewas setiap bulan pada tahun 2013 saja, artinya 6000 burung per tahun.
Enggang Gading dulunya memang secara tradisional sudah diburu oleh suku-suku asli Kalimantan, tetapi tidak pernah pada tingkat yang menimbulkan risiko kepunahan.
Perburuan dan pembantaian sistematis spesies ini muncul secara tiba-tiba," kata Chris Shepherd. Baru tahun 2011, gading merah pertama dari Enggang Gading muncul di situs internet dari sebuah pasar satwa liar di kawasan perbatasan Myanmar dan Laos.
Perburuan intensif lalu terjadi, terutama di kalangan jaringan penyelundup satwa liar di Kalimantan Barat. Jalur utama penyelundupan satwa liar itu adalah bandara internasional di ibukota Pontianak.
Enggang Gading adalah burung besar. Ukuran tubuhnya bisa mencapai 170 cm dan memang mudah untuk diburu. Biasanya burung ini bertengger di batang pohon-pohon besar, tidak jarang secara berkelompok.
Selama 2015-2015 ada 16 kali penangkapan terkait perdagangan ilegal paruh Enggang Gading, dengan sitaan lebih dari 1100 paruh. Di Cina diamankan lebih dari 1000 paruh enggang dari 19 kali operasi aparat keamanan. Semuanya diduga berasal dari Indonesia.
Anggota Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat SPORC di Kalimantan mengatakan, anggotanya sekarang jarang melihat burung Enggang Gading di pohon selama patroli. Tetapi mereka sering bangkai burung yang sudah dipotong kepalanya.
"Bagi para pemburu, yang paling bernilai itu kepalanya", kata David Muhammad, Kepala SPORC di Pontianak, kepada AFP. "Itulah satu-satunya yang mereka inginkan. Sisanya tidak punya nilai."
Perdagangan komersial Enggang Gading secara hukum dilarang di Cina dan di seluruh kawasan habitatnya di Asia Tenggara: Thailand, Myanmar, Malaysia, Brunei dan Indonesia.
Tapi perdagangan ilegal makin semarak. Menurut Chris Sheperd, dalam ├╝periode 18 bulan sampai Agustus 2014, hampir 2.200 paruh Gading Enggang disita aparat penegak hukum di Cina dan Indonesia, dan ini hanya "puncak gunung es" saja..
Dalam satu kasus, unit SPORC mencegat empat warga negara Cina di bandara Pontianak, yang membawa hampir 250 paruh yang disimpan di bagasi mereka.
Adam Miller, kelompok konservasi Planet Indonesia yang berbasis di Pontianak mengatakan, penyelundupan Enggang Gading sudah mirip sindikat perdagangan gading gajah dalam skala, kriminalitas dan kecanggihannya.
"Hanya sedikit orang yang melakukan itu hanya untuk bertahan hidup. Ini kebanyakan kegiatan sindikat," katanya kepada AFP.
Chris Shepherd mengatakan, perkembangan ini mencerminkan tren yang berkembang di kalangan kolektor satwa liar dan eksotis.
"Orang-orang ingin memiliki hewan ilegal, orang ingin memiliki hewan langka, orang ingin memiliki hewan mahal, hanya untuk pamer status dan kekayaan mereka," katanya.