Jumat, 22 Oktober 2010

WADIAN MURUNG RAYA

http://www.amirsodikin.com/templates/rhuk_solarflared/images/logo.gif

Pengobatan Balian di Kalimantan Tengah


Written by Amir Sodikin   
Image 




Pengobatan Balian di Kalimantan Tengah, Kini Menjadi FENOMENA PSIKOTERAPI PEDALAMAN. Ritual-ritual balian itu berusaha menembus ruang bawah sadar pasien, mempengaruhi pikiran pasien untuk membebaskannya dari rasa takut. Kekuatan pasien dirangsang, dijadikan penyembuh alami. Tidak hanya itu, balian berupaya mengintegrasikan ingatan-ingatan pasien ke dalam tatanan kosmik, memperbaiki disharmoni. Mereka percaya
disharmoni adalah sumber penyakit.

Asap kemenyan terus mengepul di ruangan berukuran 5 x 4 meter persegi. Perlahan balian perempuan Indu As (40), mengasapi bojah tawur (Dayak Ot Dnum: beras tawur). Komat-kamit sebentar, sang balian menuturkan asal mula beras sambil memohon kepada sang beras. Balian yakin beras itu bisa menjadi duta yang akan mengajukan permohonan
kepada para sangiang atau leluhur untuk mengobati.

Malam itu Indu As memang sedang mengobati istri Zailani (26), warga Tumbang Topus, Kecamatan Sumber Barito Murung Raya, Kalimantan Tengah. Pasien dan balian berada di tengah ruangan sementara belasan warga menyaksikan upacara itu.
"Beras itu akan berubah menjadi tujuh perempuan cantik, siap mencari pengobatan ke seluruh penjuru mata angin," kata Marko Mahin, antropolog agama dari Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis.

Enam perempuan pergi ke sana kemari mencari leluhur atau sangiang yang akan mengobati sementara satu putri tetap tinggal di tempat. Indu As yang menjadi perantara bisa saja berbahasa Dayak Ot  Danum, Dayak Ngaju, Dayak Punan, atau Dayak Murung, bisa juga Banjar  tergantung leluhur yang masuk ke tubuhnya.
"Balian sebenarnya tidak tahu banyak bahasa. Namun, karena dia  dimasuki roh lain dia bisa bicara sesuai dengan bahasa roh yang masuk," kata Lukas, warga Tumbang Topus.
Roh telah memasuki tubuh Indu As. Tangannya terlihat menyisir  rambut panjang. Roh yang masuk ke tubuh balian itu katanya memang seorang nenek berambut panjang. Tangannya kemudian mengambil batu kait yang telah disiapkan untuk memulai mendiagnosa penyakit.
Terjadi sebuah dialog dalam bahasa Ot Danum, "Narai gawin ketun toh (apa kegiatan kalian ini)," tanya leluhur itu melalui mulut basir, sebutan untuk balian di hulu Sungai Barito, Kalimantan Tengah.
"Ikei handak manantamba (kami ingin diobati)," jawab sang warga  yang berada di sekitar pengobatan.
"Narai kahabae? (Apa sakitnya?)," tanya basie.
"Ie toh pehe usoke tuntang bahali nahaseng (ia sakit dada dan sulit bernapas)," jawabnya.
"Laku gula bahandang esu (minta gula merah cucu)," minta nenek itu yang kemudian disodori gula merah. Nenek yang masuk ke dalam tubuh balian mendeteksi penyakit dengan
gula merah dan mengambil penyakit menggunakan sisir. Tiap leluhur  yang masuk memiliki metode pengobatan berbeda, ada yang menggunakan sisir, batu, air, tepung tawar, juga darah ayam.

Pengobatan pedalaman
Ritual balian hingga kini masih menjadi alternatif utama di pedalaman Kalimantan. Tiap provinsi memiliki variasi ritual yang berbeda namun intinya hampir sama.

Di komunitas Dayak Meratus Kalimantan Selatan, pengobatan balian dilakukan bersamaan upacara selamatan atau baaruh. Di Kalimantan Tengah, upacara balian bisa digelar kecil-kecilan seperti yang dilakukan pada keluarga Zailani di atas. Di Kalteng basie perempuan merupakan fenomena langka karena saat ini didominasi laki-laki. Di Kalimantan Timur, balian perempuan masih banyak terlihat dalam setiap upacara. Upacara balian di Kaltim, seperti pada komunitas Dayak Benuaq di rumah panjang Papas Eheng Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat, digelar hingga 20 hari dengan upacara besar-besaran yang diakhiri dengan menyembelih beberapa ekor sapi. Keterisolasian dan keterpencilan memaksa mereka menggunakan pengobatan kuno. Semua jenis penyakit hanya mengandalkan balian,
karena umumnya tak ada mantri apalagi dokter di daerah itu. Ritual balian turun temurun di bumi Kalimantan itu hingga kini masih bisa disaksikan terutama di daerah yang belum memiliki alternatif  pengobatan kedokteran modern. Balian dianggap mampu membangun hubungan dengan dunia roh. 

Antropolog Marko Mahin mengatakan, balian percaya bahwa manusia merupakan bagian tak terpisahkan dari suatu sistem yang tertata dan semua penyakit yang ada adalah konsekuensi dari disharmoni dengan tatanan kosmik.
"Penyakit ditafsirkan sebagai akibat perilaku yang tak harmoni terhadap alam," katanya.
Karena itu terapi balian menekankan pada pemeliharaan keseimbangan atau harmoni alam raya. Di dalam hubungan manusia, dan di dalam hubungan dengan dunia roh. Dalam pengobatan balian, pasien sebagai individu tidak terlalu dipentingkan. Justru situasi sosial yang menjadi tolok diagnosa penyakit dan lebih penting dibanding faktor-faktor fisik atau
psikologis. Pencarian sebab dan pengungkapan diagnosa serta komunikasi intensif dengan pasien atau keluarga pasien menjadi lebih menonjol dibanding terapi sebenarnya.

Terapi balian dalam beberapa kasus dianggap mengikuti pendekatan psikosomatik (Yunani, psyche=jiwa dan soma= tubuh). Pendekatan ini menggunakan teknik-teknik psikologis pada penyakit-penyakit fisik. "Tujuannya berupaya mengintegrasikan kembali ingatan-ingatan
pasien ke dalam tatanan kosmik yang benar, yang tidak disharmoni, itu inti usaha penyembuhan," kata Marko.


Psikoterapi modern
Ritual-ritual penyembuhan lebih untuk mengangkat pertentangan-pertentangan dan perlawanan-perlawanan bawah sadar ke alam sadar. Di alam sadar pertentangan dan perlawanan akan mendapat penyelesaian baik oleh pasien maupun oleh keluarganya. Hubungan yang kuat antara penyembuh dengan penderita menjelma menjadi kekuatan super (supernatural) yang menjadi energi penyembuh. Konsepsi seperti ini bisa sejajar dengan dinamika dasar psikoterapi modern. Filsuf ilmu pengetahuan Fritjof Capra berpendapat metode pengobatan tradisional itu disadari atau tidak telah menggunakan teknik-teknik terapeutik semacam kebersamaan kelompok, psikodrama, analisis mimpi, sugesti, hipnotis, pencitraan terbimbing, dan terapi psikodelik.

Marko Mahin mengatakan, balian sudah mengenal teknik-teknik itu selama berabad-abad yang lalu sebelum teknik-teknik itu secara ilmiah ditemukan kembali oleh psikolog modern. Namun, tentu saja ada perbedaan antara pendekatan psikoterapi modern dengan pendekatan kuno balian. Psikoterapi modern, menurut Fritjof Capra, membantu pasien dengan membangun suatu mitos individu dengan elemen-elemen yang diambil dari masa lampau pasien sementara pengobatan semacam balian memberi pasien suatu mitos sosial yang tidak terbatas pada pengalaman-pengalaman individu.

Konsep pengobatan balian tidak bekerja pada bawah sadar individu pasien namun lebih dari itu dia bekerja pada bawah sadar sosial yang kolektif dan dimiliki seluruh komunitas. Pendekatan lebih holistik balian dalam memandang tubuh manusia ini melampaui pendekatan mekanistik kedokteran biomedis yang memandang tubuh manusia secara parsial. Secara tidak sengaja, semangat pencarian pengobatan balian ini dapat mengajarkan tentang dimensi sosial suatu penyakit yang selama ini diabaikan dan dilupakan banyak kalangan.

Berabad-abad para penyembuh bekerja di dalam komunitasnya, terus melakukan pencarian penyembuhan primitif itu. Berbekal kearifan tradisional, mereka yakin penyakit merupakan konsekuensi dari kekacauan manusia yang tidak hanya melibatkan tubuh melainkan juga
pikiran, gambaran dirinya, ketergantungan pada lingkungan fisik dan sosial, serta hubungan antara manusia dengan kosmos. Kekayaan teknik psikologis yang digunakan balian dengan
mengintegrasikan persoalan-persoalan fisik pasien ke dalam konteks yang lebih luas itu mirip dengan terapi-terapi psikosimatik saat ini. Kedokteran barat yang menganggap tubuh manusia sebagai mesin yang bisa dianalisis menurut bagian-bagian terkecilnya tidak memiliki  pendekatan ini. Fritjof Capra memaparkan, ilmu kedokteran modern sering  kehilangan pandangan tentang pasien sebagai manusia dan mereduksi  kesehatan menjadi keberfungsian mekanis. Ilmu kedokteran tak mengilmiahkan fenomena penyembuh.
Psikoterapi balian hingga kini memang masih tertutupi misteri. Namun, sudah banyak pasien yang disembuhkan. Karena itu, kalau sampai kesehatan modern masuk ke pelosok, sistem pengobatan tradisional tetap tidak boleh ditinggalkan. (KOMPAS/AMIR SODIKIN)

Keterangan Foto:
Pengobatan balian sedang berlangsung di Desa Tumbang Topus, Kecamatan
Sumber Barito, Kabupaten Murung Raya di Kalimantan Tengah. Di daerah
pedalaman hulu Sungai Barito ini pengobatan balian menjadi pilihan
utama masyarakat karena tiadanya alternatif lain.
(KOMPAS/AMIR SODIKIN)
 

Tidak ada komentar: