Senin, 15 Desember 2014

Anggrek Kuping Gajah dan Ironi Hutan Kami





Dari perjalanan tanggal 13 dan 14 Desember 2014 ke hutan desa Batapah di wilayah kabupaten Kapuas dan Madara (kabupaten Barito Selatan) kami menambah koleksi anggrek kuping gajah (Bulbophyllum beccari Rchb.f). Tumbuhan ini hidup pada pohon yang sudah tua. Memiliki daun yang lebar seperti kuping gajah sehingga sering disebut Anggrek Kuping Gajah. Hidupnya menempel pada pohon yang kulitnya basah dan tempatnya sedikit ternaungi. Daunnya berdiri tegak berbentuk cawan. Memiliki kuntum bunga yang berwarna merah dengan garis-garis ungu.
.
Ketersediaan anggrek kuping gajah di alam memang perlu perhatian khusus karena lambat laun pohon-pohon tua tempat tumbuhnya menyusut drastis. Hutan-hutan di kabupaten Barito Selatan memang “tanpa” perlindungan karena siapa pun bisa mengambil apa saja di dalamnya. Dengan kondisi ini maka perasaan “cinta” kepada kelestarian alam merupakan modal utama yang menentukan.

Terlepas dari semua itu, kami ingin Pemerintah menyisakan area hutan lestari yang aman dari perambahan. Pembiaran terhadap alam merupakan salah satu obat yang baik bagi masa depan. Ini jauh lebih ampuh dari Program Reboisasi dan Penanaman Jutaan Pohon yang ada selama ini sebab lahan yang akan direboisasi ternyata ditebangi dan dibakari dulu, baru kemudian ditanami.
.
Hutan utuh masih cukup tersebar di kabupaten Barito Selatan. Sungguh ini tidak butuh penanaman apa pun karena sudah ditanami Tuhan. Kami ingin mengelola hutan tapi tidak punya daya. Kami ingin membeli lahan untuk dihutankan  namun belum mampu dananya. Akhirnya kami berharap Pemerintah yang mengeluarkan SK tentang Hutan Suaka dan pemerintah pula yang beraksi nyata. Jangan biarkan hutan yang lestari di rusak tanpa tanggung jawab sama sekali. Buat apa program penanaman sejuta pohon kalau miliaran pohon masih tegak di hutan kami di sini?.
.
Barsel Promo :  Syamsuddin Rudiannoor (0813 4960 6504)  Info Anggrek : Maidi (0852 4951 3880)


Tidak ada komentar: