Sabtu, 21 April 2012

Panglima Batur


Banjarmasin Kota Bungas pada tanggal 28 Oktober 2010 jam 2:46 menurunkan tulisan tentang seorang pahlawan dari pedalaman sungai Barito di Dayak Besar Kalimantan Tengah:  "PANGLIMA BATUR".

Panglima Batur dilahirkan di Buntok Baru, Barito Utara, Kalimantan Tengah pada tahun 1852  dan  meninggal di Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada tanggal 5 Oktober 1905 pada usia 53 tahun. 

Panglima Batur adalah Panglima suku Dayak Bakumpai dalam Perang Banjar yang berlangsung di pedalaman Barito, yang sering disebut Perang Barito, sebagai kelanjutan dari Perang Banjar. Panglima Batur adalah salah seorang Panglima yang setia pada Sultan Muhammad Seman.


Panglima Batur seorang Panglima Dayak yang beragama Islam, asalnya dari daerah Buntok Kecil, yakni sekitar 40 Km di udik Muara Teweh. Gelar Panglima untuk daerah suku-suku Dayak pada masa itu menunjukkan pangkat dan tugas sebagai kepala keamanan dan mempunyai pasukan sebagai anak buahnya. Seorang panglima adalah orang yang paling pemberani, cerdik, berpengaruh dan biasanya kebal alias tahan tungkih.

Panglima Batur bersama Sultan Gusti Muhammad Seman mempertahankan benteng terakhir di Sungai Manawing dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda. Pada saat Panglima Batur mendapat perintah untuk pergi ke Kesultanan Pasir untuk memperoleh mesiu, saat itulah benteng Manawing mendapat serangan Belanda. Pasukan Belanda dibawah pimpinan Letnan Christofel yang berpengalaman dalam perang Aceh. Christofel dengan sejumlah besar pasukan marsose yang terkenal ganas dan bengis, menyerbu benteng Manawing pada bulan Januari 1905.


Dalam pertempuran yang tidak seimbang ini Sultan Muhammad Seman tidak dapat bertahan. Sultan tertembak dan gugur sebagai kesuma bangsa. Tertegun dengan rasa sedih yang mendalam ketika Panglima Batur kembali ke benteng Manawing, benteng itu sudah musnah dan Sultan Muhammad Seman sang pimpinan pun telah tewas.

Panglima Batur dan teman seperjuangannya yang lain seperti Panglima Umbung pulang ke kampung halaman mereka masing-masing. Panglima Umbung kembali ke Buntok Kecil. Sultan Muhammad Seman di makamkan di puncak gunung di Puruk Cahu.  Maka tinggallah kini Panglima Batur satu-satunya pimpinan perjuangan yang masih bertahan. Ia terkenal sangat teguh dengan pendiriannya dan sangat patuh dengan sumpah yang telah diucapkannya. Namun pada sisi lain beliau mudah terharu dan merasa sedih jika melihat anak buahnya atau keluarganya yang jatuh menderita. Hal semacam itu ternyata diketahui oleh kaum penjajah Belanda sehingga kelemahan Panglima Batur ini akhirnya dijadikan alat untuk menjebaknya.


Ketika terjadi upacara adat perkawinan kemenakannya di kampung Lemo, seluruh anggota keluarga Panglima Batur terkumpul. Saat itulah serdadu Belanda mengadakan penangkapan. Pasangan mempelai yang sedang bersanding juga ditangkap dimasukkan ke dalam tahanan, dipukuli dan disiksa tanpa perikemanusiaan. Cara inilah yang dipakai Belanda untuk menjebak Panglima Batur.

Dengan perantaraan Haji Kuwit salah seorang saudara sepupu Panglima Batur, Belanda berusaha menangkapnya. Atas suruhan Belanda, Haji Kuwit mengatakan bahwa apabila Panglima Batur bersedia keluar dari persembunyian dan bersedia berunding dengan Belanda, barulah tahanan yang terdiri dari keluarganya dikeluarkan dan dibebaskan, dan sebaliknya apabila Panglima tetap berkeras kepala maka para tahanan akan ditembak mati.

Hati Panglima Batur menjadi gundah dan sedih. Dia sadar bahwa apabila dia terus nekad maka keluarganya pasti dibunuhi. Akhirnya dia berfikir, lebih baik dia yang menjadi korban sendirian dari pada keluarganya yang tidak berdosa yang ikut menanggungnya. Dengan diiringi oleh orang-orang tua dan orang sekampung nya maka Panglima Batur berangkat ke Muara Teweh. Sesampainya di sana bukan perundingan yang didapatkannya malah dia langsung ditangkap sebagai tawanan dan selanjutnya dihadapkan di pengadilan karena kejahatan pemberontakan melawan pemerintah. Ini terjadi pada tanggal 24 Agustus 1905. Setelah dua minggu ditawan di Muara Teweh, Panglima Batur pun akhirnya diangkut dengan kapal ke Banjarmasin.


Di kota Banjarmasin, dia diarak keliling kota dengan pemberitahuan bahwa inilah pemberontak yang keras kepala dan akan dijatuhkan hukuman mati. Pada tanggal 15 September 1905 Panglima Batur dinaikkan ke tiang gantungan. Permintaan terakhir yang diucapkannya adalah minta dibacakan Dua Kalimah Syahadat untuknya.

Jenazah Panglima Batur dimakamkan di belakang masjid Jami Banjarmasin, tetapi sejak tanggal 21 April 1958 jenazahnya dipindahkan ke kompleks Makam Pahlawan Banjarmasin.



Tidak ada komentar: