Senin, 07 April 2014

RESENSI BUKU LIANG SARAGI, Semuanya karena Cinta....


Judul buku : LIANG SARAGI, Semuanya karena Cinta....
Penulis : Syamsuddin Rudiannoor
Katagori : Legenda Daerah Kalimantan Tengah (Barito Timur)
Penerbit : Barito Raya Pro Buntok bekerjasama dengan Penerbit WR  Yogyakarta
Jumlah halaman :  252 halaman
Harga jual: Rp. 70.000,-
Kualitas cetak: Offset diatas kertas HVS 70 gram
Tahun Penerbitan: Cetakan I Juli 2013
Lokasi Pemasaran: Barsel Promo, Jalan Panglima Batur Nomor 7 Buntok
Kontak telepon/sms:      0813 4960 6504

Buku legenda “LIANG SARAGI, Semuanya karena Cinta”, merupakan kisah cinta tragis dan legendaris yang berasal dari Kabupaten Barito Timur Provinsi Kalimantan Tengah. Buku ditulis oleh Syamsuddin Rudiannoor pada tahun 1996.

Lokasi kejadian yang digambarkan “Liang Saragi” adalah perkampungan Tudan Tarung yang apabila dilihat dengan kacamata saat ini berada dalam wilayah administrasi Kecamatan Awang kabupaten Barito Timur.

Kisah bermula ketika Raja Tudan Tarung yang bernama Dambung Datu Tatan sakit keras dan meninggal dunia. Dengan peristiwa ini otomatis tahta kepemimpinan diwarisi oleh anaknya yang bejat moralnya bernama Dambung Gamiluk Langit.

Singkat kata, Raja Dambung Gamiluk Langit akhirnya mengawinkan putrinya bernama Putri Lingga Wulan Layu dengan Maju Ranang Mea padahal Maju Ranang Mea adalah juga anak kandungnya yang merupakan hasil selingkuhnya dengan Dara Layang Winei. 
Proses perkawinan sedarah ini dilakukan oleh Raja Dambung Gamiluk Langit dengan mengorbankan Saragi Nanta kekasih hati putrinya tercinta. Perkawinan paksa dilakukan dengan cara yang sangat licik. Saragi Nanta adalah putra tunggal Wadian Wawei Dara Mauruwe yang selama ini merupakan dukun kerajaan yang sangat terpercaya.
Pesta pernikahan kerajaan yang digelar raja Dambung Gamiluk Langit ternyata berbuah petaka. Perkawinan sedarah ini justru mengundang rume atau kiamat lokal yang mengakibatkan kemusnahan Tudan Tarung secara total. Guntur petir menyambar balai pernikahan yang meriah. Hujan deras membasahi seluruh kampung dan penghuninya. Akhirnya kampung beradab itu terkutuk menjadi batu. Bekas-bekas perkampungan inilah yang kemudian dikenal sebagai LIANG SARAGI.

Tidak ada komentar: