Senin, 07 April 2014

RESENSI BUKU GIGIR GAMPAR BARITO RAYA (Amuk 1860 – 1905)



 
Judul buku : GIGIR GAMPAR BARITO RAYA  (Amuk 1860 – 1905)
Penulis : Syamsuddin Rudiannoor
Katagori : Sejarah Daerah Kalimantan Selatan dan Tengah 
Penerbit : Barito Raya Pro Buntok bekerjasama dengan Penerbit WR Yogyakarta
Jumlah halaman:  171 halaman
Kualitas cetak: Kertas bookpaper 
Tahun Penerbitan: Cetakan I Oktober 2013
Harga jual: Rp. 60.000,-
Lokasi Pemasaran: Barsel Promo, Jalan Panglima Batur Nomor 7 Buntok
Kontak telepon/sms:   0813 4960 6504

RESENSI BUKU
Buku sederhana ini merupakan sejarah lokal kedua yang ditulis oleh Syamsuddin Rudiannoor setelah Nan Sarunai Usak Jawa. Proses pengumpulan bahan dilakukan sejak tahun 2003.

Patut diakui buku GIGIR GAMPAR BARITO RAYA (Amuk 1860 – 1905) ini, Bab Pertama dan Kedua kebanyakan merupakan kutipan buku pertama "NAN SARUNAI USAK JAWA".  Bagian ini merupakan pendahuluan dari sejarah Kalimantan sebelum timbulnya masa kelam kolonisasi dan kekejaman penjajahan bangsa Barat.

Kemudian untuk Bab Ketiga sampai Ketujuh  diolah dan diramu dari berbagai sumber namun menitik-beratkan kepada buku "PERANG BANJAR" karya Bapak H.G. Mayur, SH. Beliau sendiri secara jujur mengungkapkan bahwa beliau mengambil bahan dari buku "De Bandjermasinsche Krijg" yang disusun oleh Mayor tituler pensiun W.A. van Rees dari Tentara Hindia Belanda. Meskipun demikian referensi lain tetap dipakai secara cermat sehingga tulisan menjadi mengalir dengan lancar. Pada bagian ini tergambar dengan jelas hiruk pikuk heroisme bangsa Dayak didalam memerangi kolonialisme bangsa Belanda di Nusantara khususnya di tanah Banjar yang dampak nyata dari pertempuran puluhan tahun ini berakibat langsung hingga ke pedalaman sungai Barito.

Sedangkan bab terakhir, berpedoman kepada karya Bapak Tjilik Riwut serta tulisan mutakhir lain yang didapat dari Harian Banjarmasin Post dan Tabloid Bebas. Dengan begitu maka buku ini memiliki daya tarik khusus bahkan kejutan yang tidak didapatkan dari buku sejarah lainnya seperti adanya bukti bahwa Panglima Burung adalah Pahlawan Dayak yang gagah perkasa didalam masa kejuangannya dipenghujung periode akhir perang Banjar di hulu sungai Barito di Tanah Dusun.


Sampai sekarang Panglima Burung yang di Barito dikenali sebagai “Pahlawan Jihad Barito” adalah wanita yang sangat cantik. Dia memiliki beberapa panggilan akrab oleh masyarakat. "Ada yang menyebutnya "Ilum" atau  "Itak" namun nama  populernya adalah "Bulan Jihad". Kabarnya, Bulan Jihad memeluk agama Islam dengan perantaraan Gusti Zaleha kawan seperjuangannya. Dan  Gusti  Zaleha  adalah puteri Gusti Muhammad Seman, putera Pangeran Antasari yang memimpin Perang Banjar hingga memasuki  kawasan Barito Utara dan (Barito) Selatan dengan semboyannya "Haram Manyarah, Waja Sampai ka  Puting".  

Semoga buku sederhana ini bisa menambah wawasan kita didalam menghargai masa lalu bangsa kita yang sedemikian berat dan sangatlah besar.


Tidak ada komentar: