Rabu, 26 September 2012

BAKATAK

Katak tanpa paru-paru, katak terbang, keong penembak “panah cinta” merupakan bagian dari 123 spesies baru yang ditemukan di pedalaman hutan Kalimantan. Temuan itu merupakan bagian dari proyek pelestarian dan penelitian salah satu hutan hujan tertua di dunia yang dimulai sejak 2007.

Laporan yang dirilis World Wild Fund for Nature (WWF) atas penemuan itu sekaligus ajakan untuk melindungi spesies terancam dan hutan hujan khatulistiwa di Kalimantan, yang terbagi dalam teritori Malaysia, Indonesia dan Brunei.

Pencarian spesies baru itu merupakan bagian dari proyek Heart of Borneo yang dimulai Februari 2007 dan didukung oleh WWF dan tiga negara yang memiliki pulau itu. Tujuannya adalah untuk melestarikan 85.000 mil persegi (220.000 kilometer persegi) hutan hujan yang digambarkan oleh Charles Darwin sebagai “salah satu rumah kaca mewah besar yang dibuat oleh alam untuk dirinya sendiri.”

Penjelajah telah mengunjungi Kalimantan selama berabad-abad, tetapi kawasan hutan pedalaman luas itu masih harus dieksplorasi secara biologi, kata Adam Tomasek, pemimpin proyek Heart of Borneo – WWF. Temuan spesies itu termasuk juga serangga tongkat yang terpanjang didunia (56,7 cm), ular api berwarna dan katak terbang yang bisa merubah warna kulit dan matanya. Secara keseluruhan ditemukan spesies yang baru dikenal berupa: 67 tumbuhan, 29 invertebrata, 17 ikan, lima katak, tiga ular dan kadal dan dua spesies burung. 

Borneo telah lama dikenal sebagai “hutan para raksasa” dalam dunia serangga, termasuk kecoa raksasa berukuran sekitar 4 inci (10 cm). Hutan pedalaman Kalimantan secara ilmiah memang menjadi target konservasi dan menjadi tempat tinggal sepuluh spesies primata, lebih dari 350 burung, 150 reptil dan amfibi dan 10.000 tanaman yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia ini.*

Tidak ada komentar: