Kamis, 22 Desember 2011

PAKASEM SAMPUDI ANRAU

 



Apakah ini sebuah kearifan lokal? Saya tidak tahu pasti. Yang pasti saya tahu, pakasem sampudi anrau adalah bagian dari sesuatu yang ada tetapi sangat langka. Singkat kata, Pakasem Sampudi Anrau adalah olahan dari daging binatang buruan yang aneh tapi nyata, dan saat ini … mungkin saja sudah tidak ada. Paling tidak…, sulit orang mengakui kalau hal ini memang ada.

Pakasem Sampudi Anrau menunjukkan Bahasa Dayak di Kalimantan Tengah yang tidak perlu ditunjukkan dimana lokasinya. Di daerah ini orang Dayak masih lazim melakukan perburuan ke  hutan guna memenuhi kebutuhan protein hewani mereka.


 Ketika berburu mereka membawa anjing mencapai sepuluh ekor atau lebih. Buruan yang diincar adalah rusa sambar (cervus unicolor) atau babi hutan (sus barbatus) atau jenis menjangan lainnya.

Hutan Kalimantan Tengah menyimpan hewan target buruan yang banyak sehingga setiap perburun membawa hasil yang memuaskan. Ketika hasil buruan melimpah maka daging buruan di potong-potong lalu diberikan kepada puluhan anjing. Alasannya karena sang pemburu tidak mampu membawa pulang hasil buruan ke kampung yang jaraknya jauh dari lokasi berburu. Dengan demikian hasil yang dipikul tidak seberapa banyak sedangkan kebanyakan sudah dimakan para anjing.

Setelah berjalan beberapa jam maka pemburu beserta anjingnya sampai di kampung. Apa yang terjadi selanjutnya? Daging yang dipikul diserahkan kepada ibu-ibu dan remaja untuk dibersihkan, diawetkan, disimpan atau dimasak. Sedangkan sang pemburu memanggil anjing-anjingnya satu persatu untuk mengeluarkan daging dari dalam perut mereka. Bagaimana caranya padahal daging itu sudah dimakan anjing?  Anjing-anjing itu digantung kedua kaki belakangnya dengan mulut kebawah lalu dipijat dan dipukullah perutnya sehingga keluarlah seluruh makanannya. Daging-daging mentah yang dimuntahkan oleh anjing-anjing itulah yang dinamakan pakasem sampudi anrau. Semua muntahan anjing-anjing itu sudah berbentuk daging cincang yang selanjutnya dibersihakan guna pengolahan selanjutnya.

Tidak ada komentar: