Rabu, 21 Oktober 2015

KERIPIK MANDAI MASIH TERSISA

Rasanya sudah 3 (tiga) bulan ini Kalimantan Tengah khususnya Buntok terdampak kabut asap akibat  pembakaran hutan, semak dan lahan. Selama itu pula bahan dasar pembuatan keripik terganggu. Hutan dimana-mana dibakar dan terbakar. Panas. Kemarau.
.

Sayur hutan berupa kelakai / lambiding menjadi kurus, kering dan hangus. Sayur paku (pakis hutan) malah kosong di pasar. Sayur sasupan atau putri malu air juga kehilangan daun sehingga tidak bisa untuk membuat keripik. Sedih. 
.
Agar usaha tetap berjalan maka keripik yang tersedia terbatas pada keripik dan stik ketan lambiding, stik nanas dan stik sayuran. 
.

Berhubung pakasam kulit cempedak (mandai) masih ada akhirnya kulit cempedak ini yang dijadikan keripik. Jadilah akhirnya keripik mandai dalam jumlah yang sangat terbatas. Artinya kami masih tersisa keripik mandai dan lambiding. Sementara stik tersedia stik nanas, stik lambiding dan stik sayur. 
.
42656-barsel2bpromo
Barsel Promo Buntok

Alamat : Jalan Panglima Batur 7 Buntok, Kalimantan Tengah
Kontak / sms : Syamsuddin Rudiannoor (0813 4960 6504)
Info Anggrek / Satwa : Maidi (0852 4951 3880)
http://www.facebook.com/barito.selatan



 

KABUT TERPARAH LANDA KOTA BUNTOK

 

 

Rasanya hari ini Rabu tanggal 21 Oktober 2015 merupakan musibah kabut asap terparah melanda kota Buntok. Jarak pandang subuh sampai pagi hanya 5 - 10 meter. Ini berada jauh dari titik api. Bayangkan pekatnya yang melanda kampung dan jalan raya yang menghubungkan Buntok - Palangka Raya dan sekitarnya. Pasti kabut semakin sangat pekat luar biasa. 
.
Kemarin kami ke Pendang dalam ziarah meninggalnya seorang kerabat, sepanjang jalan kabut asap kebakaran lahan sangat luar biasa menyesakkan dada. Mata perih, jalanan bertaburan debu. Udara terasa sangat pengap. Matahari tidak terlihat dalam 2 (dua) bulan ini.
.
Setahun sudah (20-10-2014) Joko Widodo - Jusuf Kalla memimpin negeri ini, setahun pula derita menyertai. Luar biasa dan diluar kebiasaan. Pengap. Gelap. Bala bencana. Biadab. Azab.
.
Penyakit bertambah merebak, penderita ISPA meningkat. Sudah puluhan jiwa yang meninggal akibat penyakit yang diperparah kualitas udara nan luar biasa jahat. Sehari bertabung oksigen harus beli Rp 2 juta. Kapan kita bersyukur atas tarikan nafas yang puluhan tahun gratis.