Rabu, 13 Februari 2013

CHRISTIAN SIMBAR PANGLIMA TERTINGGI GERAKAN MANDAU TALAWANG PANCA SILA (GMTPS) - 2



Dalam pengalaman kerjanya Christian Simbar pernah menjadi Pegawai Negeri di Kantor Kewedanaan Barito Hilir di Buntok sebagai juru tulis. Pekerjaan ini ditekuninya antara tahun 1948 sampai bulan Juli 1953.

Dalam bidang organisasi, Christian Simbar merupakan Panglima Tertinggi Gerakan Mandau Talawang Panca Sila (GMTPS). Gerakan ini merupakan gerakan politik bersenjata yang militan didalam menuntut pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah yang berdiri sendiri terpisah dari Provinsi Kalimantan Selatan.

Visi yang diemban oleh GMTPS adalah Terwujudnya suatu pengertian dan pemahaman tentang perjuangan suku Dayak Kalimantan Tengah dalam membangun dan mempertahankan kehidupannya untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik.

Sedangkan Misi yang digotong perjuangan GMTPS adalah:
1. Menciptakan dan mewujudkan kedamaian bermasyarakat, berbangsa dan bernegara  di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila.
2. Meningkatkan taraf hidup masyarakat Kalimantan Tengah yang adil dan merata dengan memanfaatkan Sumber Daya Alam yang tersedia.
3. Meningkatkan pendidikan Sumber Daya Manusia agar lebih profesional sebagai aset daerah Kalimantan Tengah.
4. Meningkatkan pelayanan kesehatan.
5. Meningkatkan pembangunan infrastruktur untuk menjangkau daerah-daerah terisolir.

Gerakan Mandau Talawang Panca Sila (GMTPS) berlangsung sejak tahun 1953 sampai 1957 yang berawal dari kampung Kalahien.

Dalam perjuangan yang dilakukan secara fisik dan perlawanan bersenjata, GMTPS membagi daerah-daerah perjuangan menjadi 3 (tiga) sektor yaitu:
Sektor A meliputi Barito Timur (Tamiang Layang) dan Barito Selatan (Kalahien-Buntok-Bundar).
Sektor B meliputi Kapuas (Timpah) dan Kahayan (Tangkahen dan Pahandut).
Sektor C meliputi Kotawaringin Timur (Sampit) dan Kotawaringin Barat (Pangkalan Bun).

Masing-masing sektor dipercaya untuk berjuang membentuk dan membina kader pejuang sekaligus memimpin dan mengerahkan pasukan secara gerilya.

Christian Simbar juga pernah mendirikan Yayasan Barisan Pemuda Pembangiunan  Provinsi Kalimantan Tengah (BPPKT) beranggotakan 1319 orang yang terdiri laki-laki dan perempuan pada akhir 1957 sampai 1960.

Karena terjadi silang pendapat dengan Pimpinan Daerah Kalimantan Tengah Tjilik Riwut pada pertengahan tahun 1961 akhirnya Christian Simbar pergi menghindar ke Balikpapan (Kalimantan Timur). Pada tanggal 1 November 1961 Christian ada mengirim surat kepada sanak keluarganya  dan sejak saat itu Christian Simbar tidak ada lagi kabar beritanya sehingga tidak diketahui sama sekali keberadaannya dimana..

Senin, 11 Februari 2013

KALTENG DICELA KARENA FOTO PENGANIAYAAN TERHADAP ORANGUTAN INI



Kekejaman kita pada satwa dilindungi
Foto-foto ini beredar luas di internet. Yang empunya foto menandai sebagai Reuters, kantor berita resmi Pemerintah Inggris. Dikatakan, foto-foto diambil di sebuah tempat di Kalimantan Tengah. Apa tanggapan kita? Kita sudah dituduh tidak manusiawi karena menganiaya binatang endemik, apalagi satwa tersebut tergolong  sangat langka dan dilindungi Undang-undang.

Kekejaman kita pada satwa dilindungi
Koran Inggris terkenal Daily Mail edisi terbaru, melaporkan adanya seekor anak orang utan dan induknya diperlakukan sangat keji di Kalimantan Tengah tepatnya di dekat sungai Pinyuh. Binatang langka yang dilindungi ini diikat dan dijadikan tontonan setelah berhasil ditangkap karena dikuatirkan menggangu lahan warga masyarakat.

 Kekejaman kita pada satwa dilindungi
Sekiranya pun foto-foto penganiyaan tersebut tidak terbukti terjadi di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah, kita sebagai masyarakat harus tetap berhati-hati dalam bersikap karena banyak satwa maupun flora dilindungi di Kalimantan Tengah yang sengaja maupun tidak memang menjadi korban dari keserakahan kita merambah alam.

Kekejaman kita pada satwa dilindungi

Terlihat dalam foto-foto ini kegiatan illegal logging yang masih terjadi dan seolah dibiarkan terjadi oleh aparat berwenang. Terlihat juga sisa-sisa penggundulan hutan besar-besaran pembukaaan lahan pertanian lahan gambut di Kalimantan Tengah di masa Orde Baru yang kini mangkrak tak terurus. Betapa hebatnya kerusakan hutan kita sekarang.

Kekejaman kita pada satwa dilindungi
Komentator foto-foto itu pun bertanya: Kemana pemerintah kita saat semua ini terjadi? Kenapa semuanya diam seribu bahasa? Atau .... apakah semua fihak harus membisu..., atau oknum-oknum aparatur negara ikut terlibat dalam kejahatan lingkungan hidup?
 
Kekejaman kita pada satwa dilindungi











Kebiadaban Kita Dalam Perlakukan Satwa Langka Diekspose Dunia ruang hati | Dec 04, 2010 | Comments 8 Mungkin tidak sedikit dari kita pernah lihat foto-foto seperti dibawah ini, dimana satwa langka yang dilindungi diperlakukan kurang baik, kalau manusiawi rasanya kurang tepat karena mereka hewan, tapi apakah karena alasan itu lalu manusia berhak sewenang wenang memperlakukan mereka, apalagi satwa yang sangat langka dan dilindungi. Kekejaman kita pada satwa dilindungi Seperti dikutip ruanghati.com dari Daily Mail edisi terbaru, dilaporkan seekor anak orang utan dan induknya diperlakukan sangat keji di sebuah daerah di Kalimantan Tengah tepatnya di dekat sungai Pinyuh. Binatang langka yang mustinya dilindungi ini diikat dan dijadikan bahan tontonan setelah oleh warga setempat satwa langka ini berhasil ditangkap karena dikuatirkan akan bisa menggangu lahan mereka. Kekejaman kita pada satwa dilindungi Nah siap yang salah, warga yang punya lahan, atau manusia yang serakah merambah tempat tinggal orang utan? Seperti diketahui bersama maraknya ilegal logging dan deforestasi hutan besar-besaran sangat mengancam habitat satwa langka yang hampir punah. Eksploitasi hutan dengan alasan ekonomi seolah dibenarkan walau tak memperhatikan kaidah kelangsungan hidup satwa dan sumber daya hayati lainnya. Kekejaman kita pada satwa dilindungi Terlihat dalam foto-foto ini kegiatan illegal logging yang masih terjadi dan seolah dibiarkan terjadi oleh aparat berwenang. Juga terlihat sisa-sisa penggundulan hutan besar-besaran dengan dalih pembukaaan lahan pertanian di lahan gambut di Kalimantan Tengah di masa pemerintahan Orde Baru yang kini mangkrak tak terurus, betapa hebatnya kerusakan hutan kita sekarang. Kekejaman kita pada satwa dilindungi Lalu apa yang kita tinggalakan sebagai warisan bagi anak cucu kita kelak? Kemana pemerintah kita saat semua ini terjadi, diam seribu bahasa, atau membiarkan oknum-oknum aparatur negara ikut terlibat dalam kejahatan lingkungan hidup? Kekejaman kita pada satwa dilindungi Kekejaman kita pada satwa dilindungi

Read more at: http://www.ruanghati.com/2010/12/04/kebiadaban-kita-dalam-perlakukan-satwa-langka-diekspose-dunia/

CHRISTIAN SIMBAR PANGLIMA TERTINGGI GERAKAN MANDAU TALAWANG PANCA SILA (GMTPS) - 1



Nama Pejuang Pergerakan Bersenjata pembentukan provinsi Kalimantan Tengah ini adalah Christian Simbar. Selain nama tersebut beliau juga dikenal masyarakat sebagai Mandolin. Disamping itu beliau juga bergelar Uria Mapas atau Uria Puneh. Ada juga nama yang lain yaitu Matuen Pehe atau Suyatim.

Mandolin alias Christian lahir di kampung Madara pada tanggal 5 Juni 1927. Beliau putra dari Bapak Simbar dengan ibu Munan Pukau. Christian memiliki 7 (tujuh) orang saudara kandung yaitu Ngaman Simbar (P), Bobo Simbar (L), Batin Simbar (L), Sarimea Simbar (P), Oueng Simbar (L), Karlimin Simbar (P) dan Radine Simbar (P).

Dalam kehidupannya Christian Simbar memiliki beberapa orang istri yaitu Lugi, Rosine Tate, Mura, Ratnawati Hartini, Nursiah dan Nursiam.

Perjalanan pendidikan formal Christian Simbar dilaluinya di Sekolah Rakyat (SR) tahun 1934 – 1940 di kampung Kalahien. Selama di Kalahien Christian kecil tinggal di rumah saudara kandung perempuan tertuanya yaitu Ngaman Simbar.

Selesai sekolah di Kalahien Christian melanjutkan MILO / SMP Negeri 1 di Kuala Kapuas tahun 1940 – 1943. Selama sekolah di Kuala Kapuas Christian tinggal di Asrama Pelajar Kuala Kapuas.

Tamat dari MILO Kuala Kapuas selanjutnya Christian melanjutkan pendidikan di SMA Kristen, Jalan Kalimantan Banjarmasin.  Selama sekolah di Banjarmasin Christian tinggal di Jalan Teluk Dalam nomor 324 Banjarmasin.

Disamping mengambil pendidikan formal, Christian juga ada mengambil jenjang pendidikan non formal yaitu Kursus Mengetik di Lembaga “Semangat” Banjarmasin tahun 1947.