Rabu, 28 November 2012

Obrolan di Warung Mama Irfan (8)

SIANG MAKAN NASI KALAU MALAM MINUM TOMI

Adalah rutinitas pagi menyapu halaman warung apabila malam tidak sempat. Namun yang disapu pagi ini bukan karena malamnya tidak sempat. Sampah yang disapu adalah sampah lain dari larut malam. Maksudnya tatkala warung Mama Irfan tutup jam 22.30 WIB atau 23.00 WIB, tidak otomatis anak-anak nongkrong membubarkan diri. Justru pasca mama Irfan tutup ternyata kaum muda penghobi mejeng meneruskan kongkou-kongkou mereka. Mereka bawa makanan dan minuman dari tempat lain. Lalu pestalah mereka disini. Anti klimaks-nya, sampahnya dibuat berserakan disekitar warung mama Irfan.

Tatkala membersihkan sampah yang sabak kakar kesana kemari, tiba-tiba mama Irfan disapa acil Isar: “Umai mama Irfan banyaknya sampah subuh pagi ini?”
“Iya itu Cil sampah kakanakan malam tadi. Limbah ulun tutup, sudah disapu bersih. Subuh ini justru lebih banyak dari pada sampah seharian kemarin. ”
“Tahambur sabak kemana-mana kulit kacang dan botol-botol.”
“Iya Cil. Ulun tidak ada menjual kacang bungkus gede segini. Apalagi minuman ini!”, ucap mama Irfan sambil menunjukkan botol minuman yang masih terbungkus kresek putih. “Mabuk anak-anak malam tadi di sini pas kita sudah tidur.”
“Iya pang kelihatannya. Tuh ada bekas muntah..., hih!”, ucap acil Isar seraya bergidik.
“Coba pian lihati botol ini Cil mereknya”, seru mama Irfan serasa menyibak plastik menunjukkan merek minuman, “Topi Miring, Cil ai.”
“Bujur ai. Ini ujar kakanakan Tomi itu. Sakit lingkungan kita diulah kakanakan wadah teler-teleran. Kita hintipi pang mama Irfan, kita laporkan ke RT.”
“Serba sulit, Cil ai. Bisa panjang urusannya. Kalo kita berurusan dengan aparat, alamat warung tutup. Macet usaha. Kita tambah repot.”
“Limbah pang kaya mana jalan keluarnya?”
“Entah am Cil. Yang pasti kanak-kanak yang mabok disini biasanya orang jauh. Buktinya dulu waktu ulun jual alkohol obat luka merek MOLEK, hampir setiap hari orang jauh membeli ke sini. Setelah ulun mendengar alkohol yang laris itu untuk diminum, berhenti ulun menjualnya. Yang membeli itu gak ada yang kita kenal.”
“Maksudnya apa mama Irfan?”
“Yang membeli kesini orang-orang jauh, dibawanya kemana-mana kah. Yang minum-minum kesini ya orang jauh jua, beli dari mana-mana kah.., mabuknya ke sini. Makanya saya tidak jual alkohol obat luka lagi sejak tiga tahunan sudah. Takut ulun ada apa-apa lalu dipadahi beli disini. Celaka kita padahal harganya cuma Rp. 2.000,-”
“Ya am susah kita ini dengan kekanakan. Coba dimana bubuhannya membeli Tomy ini. Tidak tahu kita dimana membelinya. Timbul kita menyapui sampahnya disini. Terlalu kekanakan Buntok ini”.
“Seandainya ulun masih resah jua..”, ujar mama Irfan kemudian, “bisa ai ulun pasangi kamera kaya ampun sarang walet. Tapi dimana untungnya jualan kecil kayak kita ini? Untung sehari-hari haja kecil, gimana harus membeli kamera walet...! Hah ai..!”
“Sabar ai dulu kita mama Irfan ai. Kita perhatikan perkembangannya. Amun kita sudah terganggu hanyar kita serang. Yang mabuk kita tangkapi. Bila ada yang teler hanyar kita antar ke Polisi. Kita pukuli.”.
“Coba duitnya dibelikan nasi, kenyang perut. Waras pikiran.”
“Tapi ah kekanakan kita, mama Irfan. Waras dia kalau berprinsip begitu. Tahu lah mama Irfan ujar bagiannya? Bernyanyi bagiannya: Pok ame ame belalang kupu kupu, Siang makan nasi kalau malam minum Tomy! Kada tahunya.., yang botol ini pang yang ngarannya Tomy. Satwa bangsat memabukkan. Tomy itu Topi Miring. Banyu kemih iblis. Najis.”
“Hah..! Disapui ai pagi-pagi dulu,  nyaman hilang kesan jelek warung ulun.”
“Sabar ai kita. Amun tetap kada jua baik kenanya, kita sikat aja..!”
“Tahu ah, Cil. Tidak faham ulun..!”

Yah, inilah resiko punya tempat yang biasa dipakai mejeng. Siang dipakai makan minum, malam dipakai minum-minum. Siang manusianya terlihat normal, malamnya malah jadi berubah  ......, tidak normal!

KKps, 26-11-2012

Selasa, 27 November 2012

Obrolan di Warung Mama Irfan (7)



BALITA TUA


ABG Tua adalah lagu yang lagi terkenal. Dendangan anak muda ini sedang naik daun kayak ulat. Namun BALITA Tua adalah fakta nan fenomenal. Diskusi inilah yang sedang hangat di pagi ini ketika mama Khot datang ke warung mama Irfan.

Mama Khot atau Mama Khusnul Khotimah adalah tetangga mama Irfan. Perempuan ini  berbisnis warung makan. Dia pelanggan yang setiap hari membeli plastik cap bambu, kertas bungkus, es batu atau menukar uang besar dengan recehan.


Entah bagaimana awalnya, pagi itu mama Khot datang ke warung mama Irfan dan keasyikan ngobrol. Dia ngobrol dengan sekawanan anak-anak nongkrong yang bekerja di Telkomsel. Kantor pemasaran Telkomsel tepat berada di ruko depan milik Haji Adenan dan berhadapan dengan Warung Mama Irfan.

“Ikau kah Man?”, seru Mama Khot kepada salah seorang dari sekumpulan anak muda di Warung Mama Irfan.
“Inggih, Cil.”, jawab Maman kepada Mama Khot. “Rasa ingat-ingat kada ulun lawan pian. Tambah bungas pian wayah ini, Cil”.
“Akai lah. Bungas napa? Tambah hirang. Saban hari dipanggangan iwak. Acil gin kada ingat lalu jika kada ditegur duluan tadi. Apa kabar mama, Man?”
“Baik cil ai.”
“Salam lah pakai mama. Acil kada sempat lagi bertemu dan bertamu. Acil sibuk banar mengurus jualan. Maklum aja jualan kecil-kecilan.”

Selesai dialog tadi, mama Khot masuk ke warung Mama Irfan berbelanja keperluan warungnya. Usai berbelanja, mama Khot keluar sambil tertawa mengenang sesuatu.
“Hahaha..., langsung taingat kelakuan ikam acil Man ai...?!”, ucap mama Khot kepada Maman dan kawan-kawannya yang sedang minum-minum pagi.
“Hau, kenapa buhen dan ada apa, cil?”, tanya kawan Maman heran.
“Aku tatawa amun taingat itu”, ujar mama Khot girang tanpa sungkan.
“Kenapa, Cil?”
“Tahu lah buhan ikam. Maman ini sampai SMP masih kayak Balita.”
“Nah hikam ai”, seru kawan Maman yang lain, “balita macam mana?”
“Anu.., padahi lah Man?”, ujar mama Khot girang sambil tersipu menutup-nutupi senyumannya.
“Terserah aja!”, ucap Maman enjoy aja.
“Harus dipadahi, Cil ai! Siapa tahu mengandung ilmu bumi dan pengertahuan alam yang berguna bagi generasi muda macam kami!” seru kawan Maman yang lain agak ngelantur.
“Way yu, panjang lebar menampai kabungul.”
“Ayu ja”, ucap mama Khot menahan tawanya, “Anu, si Maman ini. Waktu inya sekolah SMP, kelas 2 rasanya, pas jam istirahat pasti ke rumah mencari mamanya. Ujar maman kepada kawan-kawannya, “sebentar lah aku pulang dulu minta duit ke mama”. Biasa aja lah kalo anak-anak pulang ke rumah karena SMP-nya memang dekat rumah. Tapi pas aku ke rumah Maman handak bertemu untuk sesuatu urusan, hanyar aku terkejut..., hahaha?!”
“Hau, ada apa cil?”
“Ya Tuhan! Sudah bujang si Maman masih menyusu lawan mamanya. Hahahaha!”
“Way yo lah. Sudah kelas dua SMP, bulik manyusu jam istirahat?”, tanya kawan Mama kaget sambil tersenyum nyinyir. Apa kabar dunia? Tetap asyik.
“Nah itu pang”, ujar mama Khot sambil terus tersipu-sipu sambil terkekeh-kekeh. “Tanyai aja Mamannya langsung. Aku kada sanggup lagi basurah...! Hahahaha...!”
“Hahahaha..., iya lah, Man?”
Maman yang ditanyai hanya diam memerah muka menahan malu. Jengkel hati anak muda itu. Satua. Bangsat kurang ajar. Mula sumpu.
“Benar kah, Man?”, tanya teman wanitanya yang ikut nimbrung di forum pagi itu.
“Napa ah, bujur banar. Lihati aja mulutnya kimut-kimut kayak muntung papuyu!”, kata teman Maman yang lain lagi sambil menepuk bahu Maman yang masih diam termangu malu.
“Iye lah Man?”, tanya kawan wanitanya itu lagi dalam dialek Bakumpai.
“Bujur banar ai!”, ujar Maman malu sambil menahan marah. “Kambe budas!”
“Makanya dia ini cil ai ... , mula rajanya berganti-ganti pacar. Hendak menyusu tarus balita kadaluarsa kita ini. Hahaha...!”
“Pah pah lah. Mula sumpu buhan ikam ni!”, jawan Maman sambil memukul kawannya dengan tas bahunya.
“Jelas ai bujur. Kada usah dikulim lagi man ai. Lulus SMA kan dilarang keras menyusu mama.Terpaksa ai menyusu di pacar kih”, ejek kawan Maman yang lelaki paling jangkung.
“Mula kada senonoh pander buhan kam pagi ini”, jawab Maman sewot, “ampih sudah membuka kemaluan orang! Bisa kada payu jualan ibu mama Irfan hari ini. Tau kihal warung jituh...!”
“Ayu ja”, ujar kawan Maman tetap mengejek. “Makanya kawan kita ini contoh balita yang sehat karena tidak mau menyusu di sapi?! Hidup menyusu! Hidup ABG nenen!”
“Tahi!”, timpal kawannya yang paling jangkung. “Biar balita sehat amun menyusu sampai ke tuha, pas terminum susu kadaluarsa. Babasi Man ai tusu uma um te jadi. Dasar kabureng..!”
“Tahu ah bangsat ai!”, tangkis mama marah.
Maka kerumunan itu pun langsung bubar demi menghindari kemarahan Maman yang mulai tampak.

KKps, 26-11-2012

Senin, 26 November 2012

Obrolan di Warung Mama Irfan (6)



 1212121212 EMBER
(Sambungan 12121212)



“Oi, bule...!”, seru Chandra kepada mama Irfan.
“Iya, apa..?”, tanya mbak ayu Wiwik Setyowati halus.
“Kaya apa tanggapan sampeyan mengenai 121212, kiamat kah atau musim kawin kah?”
“Hah hah, kada tahu saya...”, jawab bule kurang faham.
“Anu pang, Bu. Dokter spesialis yang banjir pesanan untuk melahirkan di tanggal dan jam 1212121212 itu. Kayak ujar TV tadi itu. Kada lah isu itu mengandung kebenaran?”
“Bisa ai benar. Buktinya di China dan Amerika memang ada bisnis semacam itu.”
“Kalo benar, bule, apa  kira-kira nama anak yang dilahirkan pada 1212121212 itu? Ayo kita tebak-tebakan, Le?”
“Kalau memakai alasan unik, langka, bersejarah dan mudah diingat maka nama yang praktis adalah sesuai nama bulannya jua. Misalnya yang lahir Februari dinamakan Febri atau Ari.  Kelahiran bulan Agustus namanya Agus atau Agustina. Yang lahir Juli bisa dinamakan Julia atau Julian. Julianto atau Julianti bisa juga. Jika bulan Juli itu bersamaan dengan bulan Islam maka namanya bisa gabungan seperti Safar Julianto atau Julianti Safarini. Bisa juga dinamai Agus Ramadhan atau Ramadanti Agustina. Kada kurang nama yang pas untuk anak-anak tercinta..!”
“Hau bule, ini kan tebakan kita untuk jabang bayi yang akan lahir bulan desember 1212121212?”
“Eh.., banyak aja nama-nama yang mudah, indah dan unik.”
“Tapi yang paling praktis sudah ada ini, bule.”
“Apa?”
“Yang wanita dinamakan saja Desi!”
“Lha yang anak laki?”
“Yang laki-lakinya Ember, bule! Hahaha! Hore, ada DESI dan EMBER.Mantap!”
“Ya... Ember,” jawab bule sambil menahan tawanya.
“Tapi bisa jua yang bayi laki-laki dinamakan Deso dan yang wanita dinamakan Emberwati, hihihi...! Bisa jua yang laki-laki DESIANTO dan yang bini-bini EMBERIANTI. ”
“Baik ai Emberianto dan Desianti? Tapi apa iya? Dasar ikam ni khusus belulucu aja ikam hari ini!”
“Gak gitu juga, bule. Penamaan seperti ini bisa-bisa saja akan terjadi. Mungkin. Mungkin sekali. Tidak mustahil, lho. Buktinya di Kalahien sana ada nama orang: Rinso dan Karbon. Sudah tuha orangnya, bule ai. Awet.”
“Tahu ai kami. Itu tu nama keluarga lakiku,” ujar  mama Irfan kalam.
“Bujur lah, bule?”
“Kaya apa kada bujur. Itu tu keluarga dekat mertua ulun. Tapi itu sudah kasus zaman dahulu. Tapi kalau sampai terjadi juga ada anak yang akan lahir tanggal 121212 nanti nekat dinamakan EMBER oleh ibu bapaknya maka ... SUNGGUH TERLALU!!”.
“Bujur bule ai.”
“Amit-amit memberi nama anak EMBER. Hih, menjijikkan.”
“Ember.”
“Ya, ember.”
Yang pasti, dunia yang semakin tua ini semakin banyak saja menonjolkan tanda-tanda kegilaan penghuninya. Buktinya tanggal kelahiran bisa dipesan. Tanggal menikah bisa diseting sampai menit dan detiknya. Malah pemberian nama anak sekalipun bisa juga direncanakan agar tampak keren, unik, nge-pop, berbau elektrik, metal dan mengandung hoki tertentu. Sudah gila kah zaman sekarang ini? Mana kutahu. Yang kutahu zaman ini memang benar-benar gila ketika nantinya ada anak yang akan lahir pada tanggal 121212 benar-benar diberi nama EMBER. Apakah ini nama yang unik, mudah diingat, bermanfaat, berkah dan hoki? Tahu ah.  

KKps, 25-11-2012

Obrolan di Warung Mama Irfan (5)



            SAMPAH, Dilempar ke Farid atau Parit?


Datang siang-siang anak nongkrong grup Fika ke warung Mama Irfan. Bagi grup ini warung Mama Irfan ditandai sebagai WARUNG SIMPANG. Istilah ini mulai tenar sejak Acil Isar berjualan soto di sini dua belasan tahun nan lalu. Sejak itulah Warung Simpang dikenali umum oleh orang ramai. Namun karena yang berjualan sekarang mama Irfan maka lambat laun sebutannya ditambahi dengan identitas baru: Warung Mama Irfan atau Warung Bule.
“Lakasi ja ke sini!”, ucap Fika ngomong di hape menyuruh kawannya datang. “Warung Simpang lah. Warung bule Mama Irfan, di muka toko elektronik Haji Adenan. Tahu ai kalo Jalan Panglima Batur simpang Karang Paci higa Kejaksaan...!?”
Entah apa yang diomong diujung telepon selular yang sana, yang jelas Fika kemudian berkata: “Pa-pah kasasombong ikam. Hanyar ja setahun meninggalkan Buntok, sudah bapander kada tahu warung Simpang. Pakai GPS Google wal ai mencarinya. Syahdu. Mula sulit tamusuh dengan orang kota yang hanyar belajar jadi Malin Kundang ni...!”
“Hahahaha...”, tawa kekawanan Fika yang lain ikut meriuhkan suasana siang yang agak panas.
“Bule..!” Seru Fika kalam. “Minum bule. Pesan ja buhan kam masing-masing.”
“Saya teh es aja.”
“Ulun minta Caffuchino es, tambahi gula sedikit..!”
“Barang aja aku yang paling sederhana : Pulpy Orange lawan kuhup Indomie goreng.”
“Way yu, kawan....! Sederhana..?”
“Badadiam ja pang.”
”Sedap.”


Maka mama Irfan pun mulai melayani pesanan grup Fika satu persatu. Belum lama bule Wiwik menyiapkan hidangan, saat itu juga kawan Fika berkata: “Warung pian ini terkenal jua bule lah. Boleh jua. Anak pian rupanya mengolahnya di internet. Bagus jua kisah surah kita di warung ini dibaca orang banyak. Ada jua cungul Buntok di dunia maya...!”
“Iya lah...?”, sahut Bule Wiwik belum yakin.
“Inggih bule ai,” jawab kawan Fika cepat. “Hanyar ja kami tadi membuka internet”.
“Tahu Irfan lawan abahnya yang bisa internet. Aku kada tahu internet...!”
“Anu, bule. Kami tadi tabaca jua “SAMPAH BUNTOK, Dilempar ke Farid atau Parit?” Bagus jua ide macam itu. Mudah-mudahan haja orang kada salah faham. Kita ini di Buntok memang memang aneh jua. Sudah ada bak sampah disediakan Pemerintah, pakai tutup lagi, e.. eee, malah sampahnya di buang di luar bak sampah. Nyata ai anjing menghambur-hambur sampah itu kemana-mana. Jorok benar.”
“Ceh...”, ujar bule mama Irfan agak menyindir. “Sudah kalo aku sediakan bak sampah di warung kami ini?”
“Sudah benar. Tua bak sampah pian ada dua.”
“Kalo sudah..., kenapa bubuhan ikam masih aja membuang sampah ke got atau ke lantai. Sibuk aku saban hari membersihkan parit dan lantai warung. Mana warungnya buruk, kada bersih lagi.”
“Nah ikam. Mula bujur pang bule ai. Inilah kebiasaan buruk kami warga Buntok sejak jaman bahari. Apa-apa sampah pasti dah dilempari babarang haja. Ada sungai ditimbai ke sungai. Melihat danau dibuang ke danau. Ada tanah kosong, timbai. Apalagi tanah Buntok kan rendah, pakai penimbunan kalo..?!”
“Kada kaya itu jua, kalo? Dasar koler aja kalo..?”
“Ya..., begitulah”, akui kawan Fika enteng. “Koler bin malas adalah alasan lain untuk praktis”.
“Tapi tidak praktis jua kalo, toh sampahnya dibuang jauh-jauh ke TPS di depan taman Iring Witu atau Stadion Batuah atau ke Terminal higa Kantor Pos. Mengantar sampah ke situ kan pakai modal, waktu dan tenaga!?.”
“Iya pang!?”
“Nah. Sudah diantari kenjot-kenjot ke tempat pembuang yang benar tapi kenapa sampahnya justru dibuang secara tidak benar jua?”
“Maksudnya?”
“Kenapa orang-orang itu membuang kantong sampahnya di luar bak sampah sementara bak sampahnya kosong? Nyata ai kantong sampah digeret-geret anjing. Kasihan kan Taman Iring Witu, Kantor Polres atau Stadion Batuah, terminal dan kantor pos Buntok kumuh berbau kayak peceren”.
“Bujur bule ai. Maaf ai amun kami yang mejeng di warung pian ini kada menjaga kebersihan”.
“Kada apa-apa aja. Cuma maksud ku.., kapan jua Buntok bisa bersih kinclong kayak Pangkalan Bun atau Kapuas. Kan nyaman nafas kalo kota ini bersih dan dapat Adipura.”
“Cihui.
KKps, 25-11-2012

Obrolan di Warung Mama Irfan (4)



12121212


Pagi ini TV di warung mama Irfan terdengar agak nyaring. Sambil jualan rupanya mbak Wiwik tetap mendengarkan “Kasus Selebrity”. Acara sassus dan saksuk atau desas-desus dan kasak-kusuk artis memang tiada habis-habisnya. Belum lama ada artis yang kawin atau planning melahirkan pada tanggal cantik 10111213. Datang lagi kabar dari artis Jane Shalimar yang akan menikahi cucu mantan Presiden Pertama RI Soekarno pada tanggal yang tidak kalah cantiknya: 121212. Menurut Jane Shalimar tanggal itu dipilih karena mudah diingat, unik dan mudah-mudahan berkah.

Namun menurut isu yang berkembang pernikahan Jane dengan mantan cucu RI-1 hanyalah balas dendam. Calon suami Jane adalah mantan Audi Item sedangkan Audi si penyanyi top baru saja menikahi calon suaminya Iko Uwais. Itu artinya pernikahan Jane pada tanggal cantik belum tentu cantik, apatah lagi calon suaminya ini merupakan suami orang. Jane adalah bakal bininya yang nomor tiga.


“Kenapa lagi ujar TV, bule?”, tanya seorang pembeli rokok sambil menyerahkan uang.
“Tahu Jane Shalimar hendak menikahi laki orang, bini ketiga dia-nya..!”
“Nah-nah...!”
“Iya, pang. Tapi tanggal nikahnya yang manis jua: 121212”. 
“Maksudnya apa, bule?”
“Tanggal dua belas, bulan dua belas, tahun dua ribu dua belas.”
“Umai lah. Jika ada yang hendak dengan ulun, mau ai saya jua: tanggal 12 bulan 12 tahun 12..., genapi jua nikahnya pas di jam 12 lewat 12 menit lewat 12 detik.”
“Hah..., kada tambah ruwet, lah..?”
“Sekali-kali kan boleh, bule.”
“Boleh aja. Tidak ada larangan,” ujar bule mama Irfan, “tapi tidak susah kah mengompaki saksi dan penghulu di KUA-nya?”
“Hi-ih lah, iya jua. Bisa-bisa pikiran rusak hanya memikirkan tanggalan dan menit-detik..!  Bisa error jua manusia!?”
“Iya itu. Belum lagi pas detik itu datang kiamat kayak di film. Labar am.”
“Kada kalo, bule. Di film itu yang kiamat kan cuma di Amerika dan India aja.., kita disini kada kena. Itu film kiamat lokal haja.”
“Iya lah?”
“Ho-oh.., Le. Dan lagi panitia hari kiamat kan belum ada pembentukannya.”
“Hau hau. Macam-macam aja.”
“Hau..., maka ujar kawan yang duduk disini kemarin panitia kiamat belum disusun. Kalau panitia sudah disusun baru mengajukan proposal meminta dana.”
“Bebujur ja be-olah pander..!”ujar bule mama Irfan sebisa mungkin berbahasa Banjar.
“Bujur bule. Zaman ini setiap acara harus ada panitia dan proposalnya. Temasuk acara menghancur dunia. Coba aja pian lihati. Israel menghantam Palestina meminta izin Amerika dan Eropa. Israel berencana membom Iran..., mengajukan izin ke Amerika...! Amun meminta izin pasti dapat dukungan!”
“Apa hubungannya?”
“Ya ada hubungannya, bule. Biar salah amun mendapat dukungan, pasti sukses, bule.”
“Apa maksudnya?”
“Ya itu tadi, siapa tadi...?”
“Jane Shalimar.”
“Ya. Walaupun dia kawin dengan laki orang, jadi istri ketiga. Kawin untuk balas dendam. Kalau pintar memainkan kartu, pakai tanggal cantik misalnya, bisa jadi mendapat simpatik. Promosi keartisannya jalan. Kawinnya meriah. Kan hebat dan heboh. Rhoma Irama aja ..., bule, adalah orang pintar yang bisa memanfaatkan sikon. Coba aja lihati. Jauh lagi 2014 sudah banyak orang mau mem-Presiden-kan Rhoma Irama. Dengan begitu maka naik pamornya. Riwayat hidupnya diburu-buru. Bininya yang dua, tiga, empat jadi forum diskusi dimana-mana. Stasiun TV ramai karena mendapat topik menarik untuk Pro-Kontra setiap hari. Lancar rejeki. Hidup ekonomi kita.”
“Begitu lah?”
“Iya bule. Makanya Jane itu tidak salah promo 121212, pasti pamornya akan meroket. KUA bisa kebanjiran order untuk menikahkan banyak pasangan di 1212121212. Dokter spesialis operasi Cesar bisa-bisa kebanjiran pesanan jua untuk melahirkan di tanggal dan jam itu. Siapa tahu ada jua anak muda Buntok yang merencanakan kawin atau kawin lari saat itu. Biar dosa kah..., menjijikkan kah, yang penting nyohor...”
“Apa, om?”
“Yang penting TV selebrity tambah tinggi rating siarannya. Tukang foto nikahan laris. Percetakan undangan kebanjiran order. Dan yang penting jua bule.., sampeyan?”
“Kenapa, Om?”
“Kalo bule bisa memanfaatkan siaran macam ini, menyediakan layar lebar di warung ini.., pasti tambah payu warung sampeyan ini.”
“Hehehe..!”, senyum mama Irfan agak kagok.
Fikir punya fikir, urgen juga meningkatkan layanan warung dengan TV yang lebih besar, tempat nongkrong yang lebih banyak dan aneka dagangan yang lebih variatif dan menarik. Hanya tersenyum mama Irfan mendengarkan sentilan salah satu langganannya.

KKps, 24-11-2012

IRING WITU BUNTOK (3)



PANGGUNG HIBURAN IRING WITU


Panggung Iring Witu merupakan satu-satunya tempat pementasan terbuka di dalam kota Buntok. Panggung ini berstatus aset pemerintah daerah dan dikelola oleh Pemerintah Daerah.



Fisik bangunan panggung Iring Witu tergolong permanen karena terbuat dari beton, atapnya multiroof dan ornamen sebagai latar-belakang panggung dinilai cukup representatif. Sementara pada bagian depan panggung sebagai ruang terbuka untuk penonton sebagian besar telah dikeraskan dengan cor. Lingkungan panggung juga telah diamankan dengan pagar beton pada sisi jalan raya dan pagar besi pada sisi sungai Barito.


Karena semakin hari pemanfaatan kawasan Iring Witu terutama panggungnya semakin meningkat maka ada baiknya keberadaan panggung lebih ditingkatkan:
1. Luas panggung pementasan yang ada ukurannya terlalu sempit untuk kesenian sehingga sepantasnya dibesarkan ke arah depan.
2. Agar panggung tidak kebasahan ketika turun hujan sebaiknya panggung diberi atap seluruhnya.
3. Pengamanan instalasi listrik dan sistem pengeras suara perlu dibangun permanen dan tersendiri.
4. Kamar kecil dan ruang petugas selayaknya dipersiapkan lebih baik untuk kenyamanan dan keamanan kegiatan.

IRING WITU BUNTOK (2)



SAMPAH BUNTOK, Dilempar ke Farid atau Parit?



Sampah adalah problem tersendiri bagi Buntok dan sekitarnya. Masyarakat antero Dusun ini belum familiar dengan mekanisme penanganan sampah yang benar. Buktinya tangan rakyat dengan mudah melemparkan puntung rokok kemana-mana. Botol-botol minuman enteng saja dilemparlan ke parit. Bahkan petugas kebersihan sekalipun masih saja menumpahkan tumpukan sampahnya ke sungai. Singkat kata sungai Barito adalah tempat pembuangan akhir sampah terpanjang di dunia. Singkat hual, persoalan sampah kota Buntok memang tanggung jawab Farid karena parit-parit yang ada sudah terlalu sempit-kipit-hapit-pit-pit.


Adalah sebuah hal faktual yang cukup ironis ketika memotret tempat sampah di Iring Witu, di depan taman Iring Witu dan kantor Polres Barito Selatan. Kenapa ironis? Cobalah lihat bagai mana lucunya orang Buntok menyikapi pemanfaatan bak sampah itu. Sungguh sebuah kenyataan tatkala kebanyakan orang yang membuang kantong sampahnya di tempat itu justru membuang di luar bak sampah sementara bak sampahnya sendiri kosong. Apakah ini bukan ironi? Tentu saja sangat ironis. Buktinya kantong-kantong sampah yang ditaruh di luar bak sampah setiap harinya diudar dan digeret-geret anjing, mengeluarkan bau busuk kemana-mana dan penuh lalat-lalat. Sungguh kasihan Taman Iring Witu dan Kantor Polres menjadi tempat anjing-anjing mejeng menggereti sampah nan bau berulat. Dan celakanya, ironi semacam ini tidak hanya terjadi di Iring Witu depan Polres saja tapi terjadi juga di Kompleks Stadion Batuah dan tempat-tempat sampah lainnya.


Hahai..., kalaulah himbauan jangan membuang sampah di parit sudah dilakukan walau pun belum gencar. Himbauan kebersihan kota bukan semata tanggung jawab Farid tetapi seluruh warga. Tentulah kesadaran khalayak mengenai persampahan ini harus terus kian digiatkan dalam berbagai program dan kegiatan sehingga kota sekecil-mungil-sejumput-imut bernama BUNTOK, dapat juga berada dalam kondisi yang lebih bersih, segar dan indah dikemudian hari. Artinya, jangan lagi sampah dilempar ke sungai Barito, ke danau, ke parit, apalagi ke Farid, namun buanglah sampah pada tempat yang semestinya. Ingat,... salah buang maka anjing yang menebarkannya kemana-mana: SABAX SE-BUNTOK KOTA.






Obrolan di Warung Mama Irfan (3)



ULAMA SUKSES YANG SUKSES MELEBIHI TIM SUKSES
(Lanjutan Buntut Sarah)


Irfan dan mamanya

Belum selesai rupanya diskusi anak nongkrong di warung Mama Irfan. Topik Buntut Sarah di Pilkada Kapuas masih terus berlanjut. Hangat perbincangan itu mengalir. Lancar.
“Ah, kada perduli, SARA kah..., SARAH kah situ, yang penting menang! Iya kalo..?”
“Menang, apanya?”,
“Ya menang Pilkadal itu tadi...!”
“Nah ikam ai, Pilkadal? Satuwa balain pulang?!”
“Pemilihan Kepala Daerah Langsung: Pilkadal, hantu ai. Bisa jua Pemilihan Kadal. Kontes Kadal...!”
“Yaa..! Mantap.”
“Mantap kabureng.”
“Ya..! Kan ... kudengar yang menang yang bupati sekarang kan, juara bertahan, walau pun menangnya cuma satu persen.”
“Iya ai, ujar koran hari ini tadi. Kemenangan tipis...pis... pis, pipis!”
“Nah kan. Pipis bin takakamih musuh. Itu artinya..., lanjutkan dan tuntaskan!”
“Tuntaskan ja situ, tuntaskan membuliki modal yang sudah dihambur-sapai kemana-mana! Modal batatabur mambari-bari hantu...! ”
“Nyata ai”, ujar kawannya sinis. “Tiwas percaya politik. Politik itu kan Poli dan Itik. Poli artinya banyak dan itik artinya ya itik. Jadi politik artinya itik yang banyak...!”
“Kalau politikus, pang?”
“Akai gampil banar. Poli artinya banyak dan tikus artinya satwa tikus. Berarti politikus adalah Tikus yang banyak. Makanya negara kita kebanyakan politikus..., buntus rabit dan wawah tu pang?!”
“Bisa jadi. Jangankan politikus yang bikin kebocoran, ulama aja kebanyakan jadi ulama politikus jua wayah ini! Coba aja..?”
“Coba aja, kenapa? Apa ikam bisa membuktikan ulama adanya jua umpat main-main poli dengan tikus?”
“Ya ampyun....., banyak benar kijil ai buktinya. Aku banyak dapat kabar .... sejibun sejuta-juta banyaknya ulama yang pasang gigi palsu supaya bisa unjuk gigi..!”
“Maksudnya....? Contoh nyatanya..?”
“Coba ikam fikir. Ada ulama mendukung kandidat dengan jaminan.”
“Jaminan apa?”
“Ujar ulama tadi: Kami punya ratusan jamaah, dijamin mendukung kandidat A asal masjid kami dibantu Rp 20 juta. Kalau dukungan gagal dijamin uang kembali. Duit diantar sehari setelah KPUD memutuskan pemenang! Coba?”
“Wajar aja.”
“Apanya yang wajar? Ulama tadi belum selesai. Dia minta duit lagi ke kandidat lain, B! B calon pemenang terkuat kedua, digarap dengan cara dan jaminan yang sama”.
“Hau.., kaya apa bisa kaya itu...?”
“Nah..., ini. Inilah kehebatan ulama politik. Begitu duit didapat dari kandidat A dan B sebesar Rp. 40 juta dari dua calon terkuat maka ulama tadi tinggal berleha-leha alias diam saja.”
“Nah..., apakah tidak membujuk jamaah untuk memilih salah satu kandidat?”
“Sama sekali tidak. Ulama tadi santai-santai ja menghabisi duit angin.”
“Tidak sosialisasi kandidat atau kampanye?”
“Sama sekali tidak. Prai.”
“Lalu, apa yang digawinya?”
“Ya diam. Diam aja. Tidak perduli. Cuwek. Menyumpahi kebodohan para calon pemimpin negeri yang ditipu!”
“Lalu..., kalau pemilukada sudah dan penetapan pemenang sudah?”
“Ulama kita menghubungi yang menang, mengucapkan selamat. Mengucap terima kasih atas bantuannya. Ranai.”
“Lalu kepada yang kalah?”
“Sesuai janji, dia datang kepada kandidat yang kalah. Pertama mengucap permintaan maaf. Kedua mengembalikan uang di mulutnya.”
“Berarti Rp.20 juta dikembalikan tunai, gitu..?”
“Kadanya maka, pang. Duit cuma dikembalikan separonya.”
“Kenapa begitu?”
“Dengan sangat menyesali sang kiyai menyampaikan bahwa yang Rp. 10 juta sudah terlanjur dibelikan karpet masjid, biaya transport, dipakai sholat hajat dan makan-makan waktu acara pengajian. Ujarnya .., seandainya kekurangan yang 10 juta diikhlaskan maka diucapkan terima kasih. Kalau tidak maka akan diganti dengan celengan masjid?”
“Akhirnya...?”
“Dengan berat hati terpaksa uang yang kembali cuma Rp. 10 juta.”
“Kada ikhlas lah?”
“Lebih baik kada ikhlas daripada dibongkar money politic-nya..!”
“Astaghfirullah. Dasar pintar kiyai kita? Terlalu!!”
“Terlalu apanya?”
“Ya terlalu! Diam aja harganya bisa tembus Rp. 30 juta!”
“Lha iya lah. Ini baru ulama yang faham arti kharisma dan time is money..!”
“Neraka!”
“Huh..., tidak mungkin. Mustahil.”
“Kok tidak mungkin?”
“Ya jelas tidak mungkin. Dia kan tidak berdusta?!”
 “Tahu ah. Semakian hancur aja dunia kita kalau begini! Kiamat, 2012..., kiamat!”
“Belum ada kiamat 2012, itu cuma film khayalan Amerika! Pasti tidak ada kiamat?”
“Kenapa maka ikam ini wani memastikan tidak ada kiamat? Harat bujur!”
“Nyata ai harat. Kan Panitia Kiamat belum disusun.... hahaha...?!”
“Mula murtad jua ikam ni!
“Ikam nang murtad memastikan kiamat 2012.”
“Orangnya yang kiamat, bungul ai..!”
“Hi-ih ja, tambuk ai.”
Karena diskusi mulai mengarah tidak menguntungkan maka anak nongkrong pun bubar masing-masing. “Terima kasih mama Irfan lah. Kami bubar dulu. Kena ja lagi”.
“Ya, sama-sama”, ujar mama Irfan ramah.
Dan di langit Barat..., matahari redup bagai tersenyum memerahkan sore yang cerah. Alhamdulillah.., Buntok memang kampung yang tenang, damai dan menggairahkan.

KKps, 24-11-2012

Kamis, 22 November 2012

DESAIN DANAU MALAWEN

Syamsuddin Rudiannoor


Benar tidaknya khabar yang terdengar bahwa Pemerintah Kabupaten Barito Selatan akan mulai menggarap Danau Malawen di sekitar desa Pamait tahun 2013 bukanlah sesuatu yang perlu dikonfirmasi. Yang penting sudah  ada perbincangan ke arah itu. Menurut orang-orang di kampung: “Biar beh kalah si saung, ji penting manang si surah”.

Berbanyak-banyak surah atau pembahasan tentang rencana pembangunan Danau Malawen sesungguhnya bukanlah ide baru. Dalam ingatan saya, dulu Bupati Asmawi Agani sudah  merencanakan kawasan itu sebagai bagian dari Jalur Hijau dengan menanami pohon-pohon kelapa. Malah aliran sungai dari Buntok disepanjang sungai Tambuk - Jalan Pahlawan Atas – Desa Pamait, mutlak dilarang ada bangunan kecuali untuk hutan kota (jalur hijau) dan pemanfaatan wisata.

Desain restoran Danau Malawen
Beberapa tahun lalu ketika Kepala Dinas Informasi Komunikasi Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Barito Selatan dijabat Drs. Jumadi, wacana pembangunan kawasan Danau Malawen sudah didiskusikan serius dengan Ketua DPRD Kabupaten Barito Selatan H Achmad Rasyid, disurvei dan dibuatkan pula Desain dan RAB. Kesimpulannya antara Danau Sanggu dan Danau Malawen memungkinkan dibuatkan koneksi, jalur trek atau titian. Dan antara obyek wisata Sanggu dan seberang Danau Sanggu dapat dibuatkan jembatan gantung atau semacam flying fox. Dalam jangka panjang di kawasan itu bisa juga dibuatkan wahana wisata air seperti waterboom, pemancingan dan fasilitas wisata lainnya.

Kalau saya berpendapat, sebelum kawasan tertentu dari Danau Sanggu, Malawen atau Sababilah ditempatkan bangunan keperluan wisata, hendaknya dibuatkan dulu penetapan kawasan dengan Keputusan Bupati atau PERDA karena sampai sekarang tidak ada satu pun daya tarik wisata di Barsel yang ditetapkan dengan dasar hukum. Artinya, pembangunan yang dilakukan dilaksanakan tanpa tahapan dan kesinambungan yang dapat dipertanggung-jawabkan. Maksud saya, apakah sulit membuat Surat Keputusan tentang Penetapan Danau Sanggu, Malawen, Sababilah, Danau Sadar, Iring Witu, Taman Mungkur Ulin (eks Rujab), Dusun Bambaler, Karewa, Liang Lempang atau situs / daya tarik lainnya sebagai Daya Tarik Wisata Daerah Kabupaten Barito Selatan? Tidakkah dasar hukum semacam ini urgen supaya pembangunan kepariwisataan daerah bisa fokus, terencana, berkesinambungan dan kontabel?
Desain restoran Danau Malawen
Ekat eh boh surah iti. Lako pitua kaon lagi sa matu’eh nelang bapangalaman pakai kama’eh tumpuk takam katuluh.


BANGSA MAANYAN MENDIRIKAN NEGARA NAN SARUNAI DI AFRIKA



Syamsuddin Rudiannoor
Dalam tayangan kami terdahulu “Ada Darah Dayak di Madagaskar?”, yang mengutip Tempo.com, Senin, 26 Maret 2012 | 06:04 WIB, sangat jelas bahwa Etnis Malagasi yang kini menempati Negara Madagaskar berasal dari rahim 30 perempuan yang terdampar di daerah itu pada 1.200 tahun lalu. Di antara 30 perempuan itu, 28 perempuan di antaranya berasal dari Indonesia, Suku Dayak Ma’anyan.

Berita ini kembali dilansir koran harian umum Banjarmasin MEDIA KALIMANTAN edisi Jum’at tanggal 16 November 2012 pada halaman 1 dengan judul “Madagascar = Dayak Ma’anyan?” Dalam berita ini ditegaskan bahwa Kementerian Luar Negeri Madagascar (Afrika) berjanji akan mengadakan penelitian khusus yang nantinya kemungkinan bekerja-sama dengan Pemerintah Indonesia (LIPI).

Berdasarkan Murray Cox, peneliti genetika dari Massey University (Selandia Baru), penelitiannya menyatakan bahwa darah Dayak mengalir di tubuh penduduk Madagaskar. Disebutkannya satu milenium lampau sekelompok etnis asli Kalimantan berlayar menggunakan perahu di Samudra Hindia. Kencangnya ombak di perairan luas ini mendorong perahu hingga terdampar di Madagaskar yang tak berpenghuni. Kelompok yang terdampar inilah kemudian membuka lahan di dataran tinggi untuk dijadikan permukiman dan sawah. “Kami berbicara mengenai satu budaya yang berpindah tempat melintasi Samudera Hindia," katanya kepada Live Science. 


Bukti etnis Dayak sebagai pemukim pertama Madagaskar kini masih terawetkan pada tiga suku yang berdiam di dataran tinggi, yaitu suku Merina, Sihanaka, dan Betsileo. Ketiganya masih berkomunikasi menggunakan bahasa yang mirip bahasa Barito yang dipakai di Kalimantan bagian selatan atau Bahasa Ma’anyan.

Pertanyaan yang masih tersisa di benak peneliti ini adalah seperti apa kontribusi genetik pemukim pertama ini terhadap penduduk Madagaskar saat ini. Untuk mengetahuinya, dia mempelajari gen yang didapat dari mitokondria 300 penduduk Madagaskar dan 3.000 penduduk Indonesia. Pemilihan mitokondria ini disebabkan dapur energi pada sel ini menyimpan gen yang diturunkan oleh ibu. Dan sampel gen memperlihatkan kemiripan antara genom orang Indonesia dan Madagaskar. Artinya dari 30 perempuan ibu bangsa Madagascar sekarang maka 28 diantaranya adalah orang Dayak Ma’anyan.

Pekerjaan berikutnya adalah mengetahui kapan dan bagaimana etnis Ma’anyan dari Indonesia sampai di pulau tersebut? Simulasi komputer pun digunakan untuk menelusuri silsilah genetik manusia Madagaskar yang hidup saat ini hingga ke masa lalu. Hasilnya memperlihatkan bahwa penduduk Madagaskar saat ini terhubung langsung dengan 30 perempuan. Perempuan-perempuan ini diperkirakan menjadi pemukim pertama disana sekitar 1.200 tahun lalu, yaitu 28 perempuan Indonesia Ma’anyan dan dua lainnya dari Afrika.
Buntok 1936

Dari hasil penelitian lain diketahui kromosom Y yang diturunkan dari ayah juga menunjukkan pemukim laki-laki pertama Madagaskar adalah juga berasal dari Indonesia. Namun tak diketahui berapa banyak jumlah mereka. Berdasarkan fakta ini diketahui dengan jelas bahwa pria dan wanita penduduk Madagaskar memang berasal dari Indonesia. Dan Cox menduga jumlah laki-laki pertama di pulau ini relatif sedikit dibandingkan wanitanya. Maka hasil penelitian ini meyakinkan Cox bahwa populasi etnis Dayak lah yang terdampar dan segera berkembang pesat menguasai pulau Madagascar dan menjadi bangsa Madagascar. Diperkirakan kelompok besar sudah tercipta dalam beberapa generasi saja.

Pertanyaan yang belum terjawab adalah kenapa pemukim pertama ini (orang Ma’anyan) bisa sampai di Madagaskar. Ada kemungkinan mereka sampai di Madagaskar tanpa disengaja. Skenario lain yang mungkin terjadi adalah kelompok etnis Dayak berlayar dengan kapal yang sanggup menampung 500 orang. Di tengah samudra, kapal yang mereka tumpangi terbalik dan terdorong arus laut ke arah barat. "Beberapa orang menyelamatkan diri menggunakan perahu cadangan," katanya. Penumpang yang selamat inilah yang kemudian mendarat di Madagaskar dan mendirikan permukiman pertama di pulau tersebut.


Tamiang Layang 1908

Penutup
Namun dalam benak saya kemungkinan sampainya suku Dayak Maanyan ke Madacascar adalah karena orang-orang Ma’anyan memang sengaja mengungsi kemana-mana dan itu terjadi sejak datangnya bangsa Melayu di pemukiman Murung (Ujung Murung, Banjarmasin), lalu runtuhnya kejayaan bangsa Ma’anyan di Kayu Tangi (sekitar Landasan Ulin dan Bandara Syamsuddin Noor sekarang), runtuhnya pusat Kerajaan Nan Sarunai di Tumpuk Uhang (Kadaton Tane Ngamamg Talam di Candi Agung, Amuntai) karena berdirinya kerajaan Negara Dipa (tragedi Nan Sarunai Usak Jawa), dan terakhir karena gagalnya IDUNG dan JARANG mendirikan lagi NAN SARUNAI II di tepi Sungai Tabalong sampai ke batas Kalimantan Timur. Artinya, suku Maanyan memang sengaja mengungsi kemana-mana mengikuti para Damung, Patih, Uria dan pemimpin suku keluarganya masing-masing.