Kamis, 22 Desember 2011

SELAMATKAN ENGGANG TEPIAN BARITO

 

 

Pada hari Sabtu tanggal 23 April 2011 saya naik kapal taksi air “KM ROSITA AGUNG” dari Buntok (ibukota kabupaten Barito Selatan) menuju Kuala Kapuas (ibukota Kabupaten Kapuas). Kapal berangkat dari Pelabuhan Pasar Lama Buntok pukul 11.15 WIB pagi dan direncanakan tiba di Kuala Kapuas subuh besoknya.

Tatkala kapal tengah melayari sungai Barito diantara Bangkuang (ibukota kecamatan Karau Kuala) dan Mangkatip (ibukota kecamatan Dusun Hilir), di sanalah tertangkap pemandangan yang lain di tepian sungai Barito  yaitu 3 (tiga) ekor burung enggang sedang bertengger di dahan pohon.


Kenapa penampakan ketiga burung itu dianggap pemandangan lain? Karena di sepanjang perairan Barito terutama antara Bangkuang – Mangkatip, saat ini  sudah lumrah dengan pemandangan tongkong-tongkang batu bara yang berlalu lalang.

Sesungguhnya ketiga enggang itu bagi saya termasuk sangat  langka karena baru kali ini saya melihat burung enggang (rangkong/hornbill/buceros) yang paruh dan mahkotanya putih semua. Timbul kekhawatiran di dalam hati karena lokasi mereka berada adalah termasuk area sibuk dengan aktivitas manusia karena di sana sudah berdiri cukup banyak pelabuhan batu bara (stockpile).


Semoga satwa langka yang masih tersisa (termasuk orang utan dan bekantan) yang sering ke tepian Barito setiap petang dibentang jarak antara Bangkuang-Mangkatip-Jenamas,  masih bisa kebagian hutan sebagai rumah tempat mereka bertahan. Marilah kita bersatu padu menyelamatkan habitat mereka.


PAKASEM SAMPUDI ANRAU

 



Apakah ini sebuah kearifan lokal? Saya tidak tahu pasti. Yang pasti saya tahu, pakasem sampudi anrau adalah bagian dari sesuatu yang ada tetapi sangat langka. Singkat kata, Pakasem Sampudi Anrau adalah olahan dari daging binatang buruan yang aneh tapi nyata, dan saat ini … mungkin saja sudah tidak ada. Paling tidak…, sulit orang mengakui kalau hal ini memang ada.

Pakasem Sampudi Anrau menunjukkan Bahasa Dayak di Kalimantan Tengah yang tidak perlu ditunjukkan dimana lokasinya. Di daerah ini orang Dayak masih lazim melakukan perburuan ke  hutan guna memenuhi kebutuhan protein hewani mereka.


 Ketika berburu mereka membawa anjing mencapai sepuluh ekor atau lebih. Buruan yang diincar adalah rusa sambar (cervus unicolor) atau babi hutan (sus barbatus) atau jenis menjangan lainnya.

Hutan Kalimantan Tengah menyimpan hewan target buruan yang banyak sehingga setiap perburun membawa hasil yang memuaskan. Ketika hasil buruan melimpah maka daging buruan di potong-potong lalu diberikan kepada puluhan anjing. Alasannya karena sang pemburu tidak mampu membawa pulang hasil buruan ke kampung yang jaraknya jauh dari lokasi berburu. Dengan demikian hasil yang dipikul tidak seberapa banyak sedangkan kebanyakan sudah dimakan para anjing.

Setelah berjalan beberapa jam maka pemburu beserta anjingnya sampai di kampung. Apa yang terjadi selanjutnya? Daging yang dipikul diserahkan kepada ibu-ibu dan remaja untuk dibersihkan, diawetkan, disimpan atau dimasak. Sedangkan sang pemburu memanggil anjing-anjingnya satu persatu untuk mengeluarkan daging dari dalam perut mereka. Bagaimana caranya padahal daging itu sudah dimakan anjing?  Anjing-anjing itu digantung kedua kaki belakangnya dengan mulut kebawah lalu dipijat dan dipukullah perutnya sehingga keluarlah seluruh makanannya. Daging-daging mentah yang dimuntahkan oleh anjing-anjing itulah yang dinamakan pakasem sampudi anrau. Semua muntahan anjing-anjing itu sudah berbentuk daging cincang yang selanjutnya dibersihakan guna pengolahan selanjutnya.

BABUTUK, Abon Basah Ikan Busuk

 


BABUTUK adalah lauk langka yang diolah dari ikan busuk. Dalam pengetahuan saya, lauk ini dikenal kalangan suku tertentu yang mendiami bantaran sungai Barito, mulai Marabahan (Barito Kuala, Kalimantan Selatan), Buntok (Barito Selatan, Kalimantan Tengah) sampai Muara Teweh (Barito Utara, Kalimantan Tengah).


Babutuk sebagai lauk makan diolah dari ikan-ikan besar yang mati mengapung di sungai Barito seperti ikan patin (Pangasius sp) atau jenis tapah (famili Siluridae).

Ikan-ikan busuk ini diperoleh tatkala sungai Barito sedang “sampurak” atau mengalami arus deras dan berair keruh. Akibat keadaan itu maka ikan mengalami keracunan atau mabuk atau “kahem tungap” sehingga mengalami kematian dan hanyut.

Pada umumnya ikan-ikan yang mengambang dalam keadaan membusuk. Ikan-ikan inilah yang dipungut untuk kemudian diolah menjadi Babutuk.



Cara membuat babutuk dimulai dari membuang isi perutnya, merebus ikan-ikan besar yang busuk tadi lalu dibuang tulang-tulangnya. Hasilnya adalah daging ikan busuk yang sudah matang namun berair. Selanjutnya haluskan bumbu masak berupa kunir, laos, sereh, kemiri, garam, asam daun kalamenyu, lombok merah, apabila perlu siapkan santan dan gula.

Semua bumbu dihaluskan lalu dimasukkan ke dalam daging ikan, dicampur merata dan rebus sambil diaduk sehingga airnya mengering. Daun asam kalamenyu yang dicincang tersendiri dimasukkan agak terakhir ketika ikan hampir matang. Apabila bubur ikan sudah mendekati kering dan rasanya sudah pas antara asin dan asamnya makan siaplah babutuk dijadikan lauk makan menemani nasi. Bentuk akhir babutuk adalah seperti abon namun basah.