Rabu, 23 Februari 2011

WADI - KULINER KHAS KALTENG




Di Indonesia khususnya di Kalimantan, banyak terdapat berbagai macam masakan atau makanan khas dari berbagai daerah, baik itu merupakan makanan asli daerah tersebut ataupun hasil adaptasi dari daerah lain. Di Kalimantan Tengah sendiri banyak terdapat jenis-jenis masakan khas daerah, dan kali ini akan dibahas mengenai masakan khas yang tentu sudah cukup dikenal di sebagian besar daerah di Kalimantan.

Makanan itu adalah wadi. Wadi yang biasanya berbau sangat menyengat ini merupakan makanan khas yang biasanya berbahan dasar ikan (ikan gabus, ikan patin, dan lain sebagainya) dan daging babi atau celeng (babi hutan). Makanan ini dapat dikategorikan sebagai makanan yang mengalami 'pembusukan'.

Pembusukan di sini bukan berarti dibiarkan membusuk begitu saja, namun daging ikan atau babi di sini sebelum disimpan akan dilumuri dengan bumbu atau bubuk rahasia, yang orang Dayak Ma'anyan biasa menyebutnya dengan sa'mu atau bisa juga disebut kenta dalam bahasa Dayak Ngaju.

Sa'mu atau kenta merupakan Bumbu utama pembuatan wadi yang terbuat dari beras ketan putih yang terlebih dahulu di-sangrai sampai kecoklatan kemudian baru diblender atau ditumbuk secara manual. Dewasa ini banyak juga yang membuat samu Wadi dari biji jagung. Konon katanya beras atau jagung lebih baik ditumbuk secara manual.

Pada dasarnya pembuatan wadi bisa dikatakan mudah. Pertama-tama bahan daging yang akan diolah dibersihkan, kemudian daging tersebut direndam dalam larutan air garam kurang lebih 5 sampai 10 jam. Kemudian daging diangkat dan ditiriskan setelah 
 cukup kering, daging dicampur dengan samu atau kenta. Setelah merata daging tersebut dapat disimpan di dalam stoples atau kotak kaca atau plastik yang kedap udara. Tutup rapat-rapat kemudian simpan kurang lebih 3 sampai 5 hari. Khusus untuk daging babi atau celeng dianjurkan masa penyimpanan lebih dari satu minggu.


Walau pembuatannya relatif mudah akan tetapi rasanya bisa menjadi kurang enak atau menjadi asam bahkan tidak dapat dimakan. Oleh karena itu walaupun mudah dalam teori pembuatannya, hanya orang-orang tertentu yang punya keahlian dalam pembuatannyalah yang biasanya dapat menciptakan rasa nikmat tersebut. Namun pada dasarnya rahasia kuncinya hanya pada saat perendaman daging di air garam dan pembumbuannya.

Wadi tidak langsung dimakan setelah selesai, namun perlu digoreng atau dimasak dulu baru bisa dimakan. Dan sekedar informasi wadi ikan kebanyakan diolah oleh orang Banjar, sedang wadi babi atau celeng diolah kebanyakan oleh orang Dayak  Ma'anyan dan Ngaju.

Sumber : www.betang.com

Selasa, 22 Februari 2011

DAYAK BAKUMPAI



Dayak Bakumpai adalah suku asli yang mendiami sepanjang tepian daerah aliran sungai Barito di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah yaitu dari kota Marabahan, Barito Kuala sampai kota Puruk Cahu, Murung Raya. Suku Bakumpai berasal bagian hulu dari bekas Distrik Bakumpai sedangkan di bagian hilirnya adalah pemukiman orang Barangas (Baraki). Sebelah utara (hulu) dari wilayah bekas Distrik Bakumpai adalah wilayah Distrik Mangkatip (Mengkatib) merupakan pemukiman suku Dayak Bara Dia atau Suku Dayak Mangkatip. Suku Bakumpai maupun suku Mangkatip merupakan keturunan suku Dayak Ngaju dari Tanah Dayak.

Menurut situs "Joshua Project" suku Dayak Bakumpai berjumlah 41.000 jiwa. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, Suku Dayak Bakumpai memiliki jumlah populasi  kurang lebih 41.000 jiwa. Kawasan dengan jumlah Suku Dayak Bakumpai yang signifikan adalah Kabupaten Barito Kuala-Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.

Populasi suku Bakumpai di Kalimantan Selatan pada sensus penduduk tahun 2000 oleh Badan Pusat Statistik berjumlah 20.609 jiwa,
20.000 jiwa di Propinsi Kalimantan Tengah dan 1.000 jiwa di Propinsi Kalimantan Timur (Long Iram, Kutai Barat). Di Kalimantan Selatan, suku Bakumpai terbanyak terdapat di Kabupaten Barito Kuala (Kecamatan Bakumpai, Tabukan dan Kuripan), sejumlah 18.892 jiwa (tahun 2000).

Kabupaten lain yang terdapat banyak suku Bakumpai yaitu Barito Selatan, Barito Utara, Murung Raya dan Katingan. Sebagian suku Bakumpai bermigrasi dari hulu sungai Barito menuju hulu sungai Mahakam, yaitu ke Long Iram, Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Hampir seluruh suku Bakumpai beragama Islam.  Upacara adat  Suku Bakumpai yang berkaitan dengan sisa-sisa kepercayaan lama adalah ritual "Badewa" dan "Manyanggar Lebu".

Suku Bakumpai banyak mendapat pengaruh budaya Banjar dan bahasa Banjar. Ada pula yang menamakan bahasa Bakumpai sebagai bahasa Banjar Bakumpai . Dalam penelitian mengenai ragam bahasa Melayu, Bahasa Banjar disebut Bahasa Melayu Banjar dan bahasa Bakumpai disebut Bahasa Banjar Bakumpai.

Organisasi suku Bakumpai yaitu "Kerukunan Keluarga Bakumpai" (KKB) dan tokoh-tokoh Bakumpai adalah Panglima Wangkang, panglima Dayak di Barito Kuala dalam Perang Banjar, Pambakal Kendet (Damang Kendet), ayah dari Panglima Wangkang, pejuang melawan terhadap kolonial Belanda di daerah Bakumpai, Barito Kuala. Selanjutnya adalah Tumenggung Surapati, Panglima Dayak dari garis keturunan Dayak Siang yang menumpas Belanda dan menenggelamkan kapal Perang Onrust di desa Lontotur Barito Utara. Tumenggung Surapati adalah penerus perjuangan dalam perang Banjar dibawah pimpinan Pangeran Antasari, tetapi Perang yang dipimpin Surapati jauh lebih dahsyat dengan apa yang lebih dikenal Perang Barito tahun 1896. Bangkai kapal perang Onrust masih ada sebagai bukti dari sejarah perlawanan orang-orang Dayak di bumi Kalimantan. Kemudian KH. Hassan Basri, Mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia, berasal dari Suku Bakumpai, dari orang tua yang bersal dari Muara Teweh ( Kalimanatan Tengah) dan Marabahan (Kalimantan Selatan).

Kamis, 17 Februari 2011

BENANG BINTIK, BATIKNYA ORANG KALIMANTAN TENGAH

Benang Bintik Batik Khas Dayak Kalteng

Setifikasi batik sebagai produk budaya asli Indonesia yang dikeluarkan PBB melalui lembaga UNESCO merupakan momentum penting bagi perkembangan seni batik di Tanah Air.

Citra positif batik di dunia internasional tersebut berlanjut di tanah air tatkala Presiden Republik Indonesia (RI) menetapkan tanggal 2 Oktober 2009 sebagai Hari Batik Nasional.

Kondisi tersebut memberikan dampak positif bagi pelaku usaha dan pengrajin kain batik di berbagai daerah di Indonesia, tak terkecuali Kalteng dengan motif kain batik "Benang Bintik" sebagai Motif Batik Khas Suku Dayak di Kalimantan Tengah.

Salah satu peluang ekonomi yang terbuka dari trend tersebut adalah pengembangan industri garmen Batik Benang Bintik di daerah. Industri kreatif ini memiliki potensi yang bagus. Syaratnya, seluruh elemen di daerah harus turut berperan aktif dalam mempromosikan beragam motif batik Benang Bintik khas Dayak Kalimantan Tengah tersebut kepada masyarakat baik di dalam maupun di luar daerah.

Beberapa waktu lalu, keharusan pemakaian Batik Khas Dayak Kalimantan Tengah (Benang Bintik) masih terbatas pada kegiatan formal seperti seragam sekolah dan kantor. Alhasil, kesan Batik Benang Bintik lantas lebih dikenal sebagai bahan busana dan pakaian resmi untuk upacara adat atau acara seremonial seperti pernikahan.

Kini, Batik Benang Bintik memang semakin dikenal, ragam busana dari motif kain Benang Bintik sering pula dipakai pada kegiatan-kegiatan seperti festival, ajang pemilihan model atau kegiatan kebudayaan dan keseniah daerah lainnya.

Di Kalimantan Tengah, utamanya di Kota Palangka Raya sendiri sentra pembuatan dan percetakan kain batik Benang Bintik masih sangat minim. Pembuatan maupun percetakan Benang Bintik lebih banyak dilakukan di luar wilayah Kalimantan Tengah. Padahal cakupan wilayah permintaan pasarannya telah tersebar luas di seluruh Kalimantan Tengah. Bahkan, model-model pakaian Benang Bintik selalu tampak di beberapa sentra usaha penjahitan.

Dalam hal jenis, Benang Bintik tergolong ke dalam berbagai motif khas, diantaranya adalah motif Batang Garing, motif Huma Betang, motif ukiran, motif senjata, motif naga, motif Balanga, motif campuran dan motif-motif lainnya.

Untuk warna dasar Benang Bintik memiliki warna yang lebih berani seperti warna merah maroon, biru, merah, kuning dan hijau. Ada juga bahan warna yang lebih gelap seperti hitam dan coklat. Bahan baku Benang Bintik umumnya menggunakan bahan kain jenis kain sutera, kain semi-sutera dan kain katun.



Sumber : www.dayakpos.com

Rabu, 16 Februari 2011

EKSPEDISI LIANG LEMPANG

Wahana Uji Adrenalin..




Minggu, 13/02/ 2011, Tim Ekspedisi dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Barsel yang terdiri dari Kadisbudpar (Drs. Su'aib, M.AP), Kepala Bidang Destinasi Pariwisata (Fengky, SH), Kasi dari Bidang Destinasi, dan beberapa staf yang bertugas melakukan survei ke Objek Wisata Goa Liang Lempang. Survei tersebut diadakan dengan tujuan menindaklanjuti permohonan ijin dari warga lokal di Desa Palurejo untuk berpartisipasi mengembangkan Objek Wisata tersebut.


Liang Lempang terletak di Desa Palurejo, Kecamatan Gunung Bintang Awai dan dapat diakses dengan menggunakan mobil atau motor. Jika melalui jalan raya Ampah - Muara Teweh jaraknya adalah 75 Km dari Buntok, sedangkan melalui jalan perusahaan Multi Tambang Utama hanya memakan waktu 1,5 jam / 45 Km dari Buntok.

Tim Ekspedisi melalui akses yang lebih cepat yaitu jalan MTU dan tiba di Desa Palurejo pada pukul 08.30 WIB Minggu pagi. Kedatangan Tim disambut oleh Kepala Desa Palurejo, Pak Misli dan warga setempat. Tidak lama kemudian Tim Disbudpar beserta warga berangkat melalui jalan setapak sekitar 2 Km dari Desa. Jalan ini hanya bisa dilalui oleh Sepeda Motor dan berjalan kaki. Istimewanya, jalan setapak ini sudah mulai dimanfaatkan oleh beberapa pengunjung untuk arena Sepeda Motor Trail sambil mengunjungi Liang Lempang.




 











Aktivitas yang dilakukan setelah sampai di lokasi Goa Liang Lempang adalah melakukan penjelajahan bersama warga lokal sekitar 3 jam. Liang Lempang yang terdiri atas beberapa goa alam dan dikelilingi hutan, dataran tinggi, dan sungai. Panorama di dalam goa sangat unik, alami, dan indah karena terdiri atas jajaran batu alam yang membeku dan berlekuk-lekuk serta terjal. Perjalanan di dalam goa ini sangat sulit, cukup berbahaya, dan menantang adrenalin  kita untuk menjelajahi setiap lekuk dan sudut goa yang gelap dan penuh misteri. Tetapi di sisi lain Goa juga memaparkan pemandangan hutan dan tebing batu tinggi yang cocok dikembangkan sebagai lokasi Panjat Tebing.

Setelah penjelajahan selesai, Kadisbudpar  memaparkan bahwa untuk memindaklanjuti usul warga lokal  dalam mengembangkan Objek Wisata tersebut, akan diadakan Penyuluhan dan Pembentukan Kelompok Sadar Wisata di Desa Palurejo pada Tahun 2011 dan diusulkan akan diadakan PNPM Mandiri Pariwisata pada tahun 2012. Selain itu, jika Objek Wisata Liang Lempang dibuka untuk umum serta dikelola oleh warga lokal akan berguna bagi pemasukan desa itu sendiri.

Kamis, 10 Februari 2011

Upacara Adat Kematian Dayak Maanyan

Wadian Bulat

Dayak Maanyan sebagaimana Dayak Lainnya di Kalimantan Tengah pada awalnya menganut kepercayaan (Agama) Kaharingan yang sampai saat ini sangat mempengaruhi kebudayaan yang diwariskan kepada generasi baru yang menganut Agama Samawi (kebanyakan Kristen dan Katolik).

Di banyak daerah misionaris Kristen dan Katolik baru mencapai desa dan dusun pedalaman tahun 1970, otomatis sebelum kebanyakan Masyarakat Dayak Maanyan Benua Lima di daerah terpencil menganut kepercayaan (sekarang Agama) Kaharingan, yang oleh pemerintah waktu itu “dipaksa” menjadi Hindu Kaharingan.

Oleh karena itu beberapa upacara adat kematian Dayak Maanyan adalah warisan budaya yang dijiwai Agama Kaharingan yang dipeluk oleh leluhur Dayak Maanyan.

Pada dasarnya, secara hukum adat Dayak Maanyan terbagi tiga wilayah hukum adat yaitu wilayah Banua Lima, Paju Empat dan Paju Sepuluh (kampung sepuluh) terdapat bentuk-bentuk upacara kematian yang beragam. Yang akan dijelaskan adalah yang masuk hukum Adat Benua Lima.

Masyarakat Dayak Maanyan dulu menggambarkan bahwa kematian adalah sebuah awal perpindahan atau perjalanan roh (adiau atau amirue) ke kemuliaan dunia baru (tumpuk adiau) yang subur, damai, tenteram, kaya raya dimana di sana ada kesempurnaan, kesehatan, awet muda dan kehidupan yang abadi. Seorang Belian orang mati (wadian matei)  menggambarkan amirue/adiau akan diantar ke tumpuk janang jari, kawan nyiui pinang kakuring, wahai kawan intan amas, parei jari, kuta maharuh, welum sanang, puang mekum maringin, arai hewu (Roh yang meninggal akan di bimbing perjalanannya oleh belian menuju tempat/ perkampungan yang subur, kelapa dan pinang menghijau indah, bertaburkan intan dan emas, padi yang subur, makanan yang enak, hidup sejahtera, selalu sehat dan gembira).

Pada dasarnya Upacara (adat) kematian merupakan berbagai jenis upacara (serangkaian) dari kematian sampai beberapa upacara untuk mengantar adiau/ roh ke tumpuk adiau/ dunia akhirat.
Berikut beberapa upacara yang pernah diadakan :
Ijambe
  1. Ijambe, (baca : Ijamme’) yaitu upacara kematian yang pada intinya pembakaran tulang mati. Pelaksanaan upacaranya sepuluh hari sepuluh malam. dan membutuhkan biaya yang sangat besar, dengan hewan korban kerbau, babi dan ayam. Karena mahal Upacara ini dilakukan oleh keluarga besar dan untuk beberapa Orang (tulang yang udah meninggal) atau untuk beberapa nama.
  2. Ngadatun, yaitu upacara kematian yang dikhususkan bagi mereka yang meninggal dan terbunuh (tidak wajar) dalam peperangan atau bagi para pemimpin rakyat yang terkemuka. Pelaksanaannya tujuh hari tujuh malam.
  3. Miya, yaitu upacara membatur yang pelaksanaannya selama lima hari lima malam. Kuburan dihiasi dan lewat upacara ini keluarga masih hidup dapat “mengirim” makanan, pakaian dan kebutuhan lainnya kepada “adiau” yang sudah meninggal.
  4. Bontang, adalah level tertinggi dan “termewah” bentuk penghormatan keluarga yang masih hidup dengan yang sudah meninggal, upacara ini cukup lama 5 hari lima malam, dengan biaya luar bisa, “memakan korban “puluhan ekor babi jumbo dan ratusan ekor ayam kampung esensinya adalah memberi/ mengirim “kesejahteraan dan kemapanan” untuk roh/ adiau yang di”bontang”, upacara ini bukan termasuk upacara duka, tapi sudah berbentuk upacara sukacita.
  5. Nuang Panuk, yaitu upacara mambatur yang setingkat di bawah upacara Miya, karena pelaksanaannya hanya satu hari satu malam. Dan kuburan si mati pun hanya dibuat batur satu tingkat saja, di antar kue sesajen khas Dayak yaitu tumpi wayu dan lapat wayu dan berbagai jenis kue lainnya dalam jumlah serba tujuh dan susunan yang cukup rumit
  6. Siwah, yaitu kelanjutan dari upacara Mia yang dilaksanakan setelah empat puluh hari sesudah upacara Mia. Pelaksanaan upacara Siwah ini hanya satu hari satu malam. Inti dari upacara Siwah adalah pengukuhan kembali roh si mati setelah dipanggil dalam upacara Mia untuk menjadi pangantu pangantuhu, atau “sahabat” bagi keluarga yang belum meninggal.
Yang menarik dari upacara tersebut adalah banyak unsur seninya, baik tumet leut (sajak yang dilantunkan dengan nada indah tapi tetap, dan tarian tarian khas jaman dulu misalnya giring-giring atau nampak maupun nandrik.


Sumber : wordpress.com

Selasa, 08 Februari 2011

DHARMA WANITA PERSATUAN DISBUDPAR KABUPATEN BARITO SELATAN

Pertemuan dan Arisan Bulanan


Dharma Wanita Persatuan adalah Organisasi Kemasyarakatan yang menghimpun dan membina istri Pegawai Negeri Sipil RI dengan kegiatan yang bergerak dalam bidang pendidikan, ekonomi dan sosial budaya. Secara garis besar, tujuan organisasi Dharma Wanita adalah mewujudkan kesejahteraan anggota dan keluarganya dengan peningkatan kualitas sumber daya anggota untuk mendukung tercapainya tujuan nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Demikian pula Dharma Wanita Persatuan yang ada di Kabupaten Barito Selatan, khususnya pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, selalu berupaya untuk mengusung tujuan tersebut. Kesejahteraan anggotanya diwujudkan dengan melakukan berbagai kegiatan seperti Pertemuan dan Arisan Bulanan. Selain memupuk keakraban dan kebersamaan antar istri PNS, kegiatan-kegiatan tersebut dapat menambah wawasan, keterampilan dan kreativitas anggotanya yang nantinya bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat.  
Dharma Wanita Persatuan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Barsel dipimpin oleh Ny. Drs.Su'aib, M.AP, istri dari Kadisbudpar Kab. Barsel sendiri dengan anggota sejumlah 25 orang terdiri dari istri - istri dari karyawan dan karyawati pada Dinas Budpar. 
Pertemuan bulanan diadakan pada tanggal 7 di setiap bulannya di Aula Dinas Budpar pada pukul 15.00 WIB dan kegiatan yang dilakukan seperti arisan bulanan, pengundian hadiah, tanya jawab, serta ramah tamah. Setiap hari Sabtu pada pukul 15.00 WIB direncanakan akan diadakan pertandingan Volley Ball di lapangan olahraga Dinas Budpar. 
Event khusus seperti HUT Kemerdekaan RI dan Hari Ibu selalu dimeriahkan oleh Dharma Wanita Persatuan Dinas Budpar dengan mengadakan pameran kerajinan tangan, perlombaan internal anggota Dharma Wanita ( lari karung, Volley Ball, merias wajah, permainan Halma, dan lain-lain).

BALADA BACKPACKER -TURIS BERJIWA PETUALANG

Wisata Backpacker



Sebagian besar turis  lebih memilih untuk mengunjungi Objek Wisata yang dekat dengan akses yang gampang atau mengambil Paket Tur jika ingin mengunjungi beberapa tempat yang jauh.
Dewasa ini minat para turis mulai mengalami perubahan. Seiring berjalannya waktu banyak turis yang berpikir kreatif untuk bisa mengunjungi banyak tempat tanpa biaya yang mencekik leher. Turis yang melakukan hal ini  diberi julukan Backpacker. Istilah "Backpacker" berasal dari kata tas punggung atau yang biasa disebut ransel yang biasa digunakan untuk membawa barang dengan simpel. Oleh karena itu, yang dimaksud Backpacker adalah orang - orang yang bepergian dengan ransel dan bukan koper seperti turis - turis kebanyakan.
Backpacker mengurus sendiri perjalanannya tanpa mengikuti Paket Tur yang diadakan oleh Biro Perjalanan Wisata (Travel Agent). Backpacker tidak pernah membawa uang banyak, hanya seperlunya saja.

Bagi Anda yang tertarik untuk menjadi Backpacker mungkin perlu menyimak tips & trik berikut ini :
  1. Buat rencana perjalanan Anda, mulai dari tempat apa yang akan dikunjungi, tentukan apa yang kita lakukan disana, memilih rute dan transportasi, kenali daerah tujuan dan buat daftar barang bawaan yang kira-kira diperlukan baik sepanjang perjalanan maupun tiba ditempat tujuan. Untuk memudahkan, Anda bisa membuat Peta Perencanaan. Jangan lupa siapkan rencana cadangan.
  2. Persiapkan fisik Anda sebelum melakukan perjalanan karena biasanya seorang backpacker membutuhkan fisik yang prima. Cobalah jogging minimal satu minggu sebelum melakukan perjalanan, atau datang ke club fitness dan lakukan latihan ringan yang membuat tubuh tetap bugar.
  3. Hunting atau mencari barang bawaan yang telah didaftar dalam perencanaan. Cari barang-barang mudah di bawa, bisa masuk ke dalam ransel dan tentunya sesuai kebutuhan perjalanan Anda misalnya makanan, kompas, pakaian yang sesuai dengan kondisi alam tempat tujuan . Hunting barang tidak harus membeli kita bisa meminjam atau menyewanya.
  4. Untuk tempat-tempat yang memerlukan ijin khusus, uruslah ijin perjalanan dari jauh-jauh hari sebelum keberangkatan, dan lengkapi dokumen Anda agar tidak terjadi masalah yang mengakibatkan pembengkakan anggaran
  5. Mencari hari yang tepat untuk memulai perjalanan, jangan bertepatan dengan hari libur karena biasanya transportasi dan akomodasi akan lebih mahal
  6. Jangan merasa asing ditempat tujuan, berusahalah beradaptasi dengan suasana dan penduduk disana, syukur-syukur jika bisa diterima dan menginap gratis oleh penduduk.
  7. Gabung dalam komunitas backpacker yang akhir-akhir ini banyak bermunculan di Indonesia, atau sekedar browsing di internet untuk mengetahui lebih dalam bagaimana seorang backpacker menikmati perjalanannya.


-Disadur dari ERAWISATA.COM ( 24/02/2009)-